Mantan Wakil Gubernur Aceh Soroti Penerapan Syariat Islam Di Aceh

Azwar Abubakar,Memberi Keterangan Pers(Foto:Tim Redaksi Jbnn.net) 


JBNN.Net 
| Mantan Gubernur Aceh Azwar Abu Bakar menilai, pelaksanaan Syariat Islam di Aceh berjalan 21 tahun, setelah Qanun disahkan. Namun belum berjalan secara maksimal, buktinya banyak anak-anak yang masuk perguruan tinggi belum mampu membaca Al-Qur’an.


Menurutnya, masyarakat Aceh risau dan galau terkait pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Padahal Pemerintah telah memberikan kewenangan khusus untuk menjalankan Syariat Islam di Aceh.


“Dalam hal ini yang terdepan adalah Gubernur Aceh dan Wali Nanggroe mengajak semua stecholder, menjalankan syariat Islam di Aceh yang madani,” tegas, pada Selasa, 18 Juli 2023, saat konferensi Pers di Warung Garuda di Kota Banda Aceh.


Padahal 21 Tahun Syariat Islam di Aceh, seharusnya kehidupan masyarakat Aceh harus Madani, bahagia, kemakmuran dan ketertiban. Namun hingga kini belum terlaksana secara maksimal


“Ini perlu dibahas bersama. Dimana kendala, sehingga terjawab semua persoalan,” paparnya.


Disisi lain Aceh dapat memberikan contoh kepada masyarakat luar, apalagi Aceh jalur menyebar Islam ke Nusantara. Namun Aceh masih lemah dalam pendidikan anak-anak belum bisa mengaji, sedangkan anggaran yang dikucurkan pertahun lebih banyak.


“Jadi jangan disalahkan orang lain. Mari kita perbaiki diri kita masing-masing,” ungkapnya.


Selain itu kata Dia, di Aceh banyak Universitas yang menonjol, anehnya yang masuk ke perguruan itu hanya orang luar Aceh. Sedangkan anak-anak Aceh hanya sedikit.


“Jangan disalahkan panggung. Tetapi harus dibenahi juga,” urainya.


Untuk memajukan Aceh masyarakat dan Ulama harus kompak dengan kewenangan yang telah diberikan contoh kepada yang lain.“Jadi jangan bercerai berai,” tegasnya.


Untuk mengungkap persoalan tersebut, mantan Gubernur Aceh ini, mendirikan Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (LEPADSI), akan dideklarasikan pada Rabu 19 Juli 2023 malam, dengan tema “Hijrah Menuju Masyarakat Madani” sekaligus Tabligh Akbar dan Do’a untuk negeri, di mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.


Acara deklarasi turut dihadirkan MPU Aceh, HUDA Aceh, dan sejumlah tokoh-tokoh Masyarakat Aceh, tujuannya untuk membahas bersama persoalan yang sedang dilema dalam pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.


“Saya harapkan kepada semua masyarakat Aceh harus mendukung. Garda terdepan Gubernur Aceh dan Wali Nanggroe,” harap mantan Gubernur Aceh ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *