JBNN.Net | Fadhullah, Calon Wakil Gubernur Aceh nomor urut 2 yang berpasangan dengan Muzakir Manaf, menyampaikan visi dan misi dalam rangka pembangunan Aceh selama lima tahun ke depan jika mereka terpilih. Salah satu program utama yang diusung adalah menjadikan Aceh sebagai pusat manasik haji untuk kawasan Asia Tenggara.
Dalam pemaparannya, Fadhullah yang disapa Dek Fad menyebut bahwa Aceh memiliki sejarah sebagai tempat persinggahan jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Itu sebabnya pihaknya ingin menghidupkan kembali tradisi ini dengan membangun pusat manasik haji yang dapat menarik jamaah dari berbagai negara di Asia Tenggara.
Rencana ini diharapkan akan berdampak positif bagi ekonomi Aceh, lapangan kerja melalui sektor pariwisata dan investasi.
“Setiap hari akan ada jamaah haji yang datang, dan hal ini dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan sektor ekonomi lokal dan ini menjadi get bagi tamatan Pesantren atau dayah, Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk merealisasikan rencana ini,” kata Fadhullah, Rabu 25 September 2024 pada Rapat Paripurna Penyampaian Visi-Misi Calon Gubernur/Wakil Gubernur di DPRA,Banda Aceh
Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mendorong pembangunan infrastruktur, seperti hotel-hotel di sekitar bandara, serta peningkatan akses dan konektivitas wilayah di Aceh.
Fadhullah menegaskan pentingnya infrastruktur yang memadai untuk mendukung perekonomian, terutama dalam sektor pertanian dan kelautan, serta pelabuhan ekspor-impor yang optimal.
Visi ini diintegrasikan dengan upaya untuk memperkuat syariat Islam di Aceh, sekaligus memastikan kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi seluruh masyarakat Aceh, tanpa terkecuali.
Selain menjadikan Aceh sebagai pusat manasik haji se-Asia Tenggara, Fadhullah juga menyoroti masalah pengangguran dan kemiskinan yang tinggi di Aceh. Ia menyatakan bahwa Otonomi Khusus (Otsus) Aceh belum digunakan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Untuk itu, timnya berencana memfokuskan pada pengembangan sektor pertanian dan kelautan yang lebih modern, dengan mendampingi para petani dan nelayan untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Fadhullah juga menyinggung rendahnya investasi swasta di Aceh. Menurutnya, Aceh masih dianggap sebagai daerah yang rawan sehingga investor enggan masuk. Untuk mengatasi hal ini, ia berjanji menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi para investor agar mereka bersedia berinvestasi di Aceh.
Oleh karena itu pihaknya akan memanfaatkan peluang dari anggaran yang ada dan mengundang lebih banyak investor guna memutar roda ekonomi Aceh.
Dalam bidang infrastruktur, Fadhullah menekankan pentingnya peningkatan konektivitas antar wilayah di Aceh, khususnya di daerah pedesaan dan pesisir yang saat ini masih kurang memadai. Ia mengatakan bahwa daerah pantai barat dan selatan Aceh akan menjadi perhatian khusus, dengan rencana mengaktifkan rumah sakit regional hal ini untuk mempermudah akses dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah-daerah terpencil.
Sektor sosial budaya juga mendapat perhatian dalam visi misi Fadhullah. Ia menyoroti rendahnya kualitas sumber daya manusia dan layanan pendidikan di Aceh, serta masih banyaknya anak-anak Aceh yang kekurangan biaya untuk melanjutkan pendidikan.
Fadhullah berjanji akan meningkatkan kualitas layanan pendidikan, kesehatan, dan memastikan seluruh anak di Aceh mendapatkan gizi dan vitamin yang cukup sejak dini, agar mereka bisa tumbuh dengan baik dan berkontribusi positif bagi Aceh di masa depan.
Selain itu, Fadhullah menyinggung situs-situs sejarah Aceh yang terlantar, seperti makam-makam tokoh penting yang seharusnya dijadikan bagian dari sejarah dan objek wisata religi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan mengelola hutan dan sumber daya alam Aceh secara bijak.
Di akhir pemaparannya, Fadhullah menegaskan komitmennya untuk menjadikan Aceh sebagai daerah yang lebih makmur, sejahtera, dan selaras dengan syariat Islam, dengan menggandeng ulama dan tokoh agama dalam setiap kebijakan penting. Visi misi yang ia sampaikan merupakan langkah nyata untuk menciptakan perubahan positif bagi Aceh selama lima tahun mendatang.





