Banda Aceh | Hasil survei terbaru dari Yayasan Konsultasi Riset dan Bisnis Indonesia (Yakorbis) menempatkan pasangan Nomor Urut 02 Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadhlullah (Dek Fadh) di posisi teratas dengan elektabilitas mencapai 46,67%.
Sedangkan 0Pasangan Nomor Urut 01 Bustami Hamzah dan Fadhil Rahmi berada di posisi kedua dengan 30,08%, sementara sebanyak 23,25% responden masih belum menentukan pilihan.
Survei ini menggambarkan dinamika awal persaingan menuju kursi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Namun, tingginya angka pemilih yang belum menentukan sikap menunjukkan peluang masih terbuka hingga hari pemilihan.
Selain itu, Survei ini melibatkan 1.200 responden yang tersebar di seluruh Aceh. Dengan teknik convenience sampling, survei memiliki tingkat kepercayaan 95% dan margin of error ±2,9%. Responden merupakan warga pemegang KTP Aceh berusia minimal 17 tahun dan bukan anggota TNI atau Polri.
Mayoritas responden adalah perempuan (53,1%) dan sebagian besar telah menikah (60,40%). Responden berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, termasuk wiraswasta (14,25%), nelayan (13,92%), petani (12,08%), ibu rumah tangga (12,92%), dan karyawan (11,75%).
Keunggulan pasangan Mualem-Dek Fadh dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang disebutkan responden:
• Kepedulian Sosial Masyarakat: 33,42%
• Religiusitas atau Akhlak Baik: 16,75%
• Ketokohan: 10,25%
• Kompetensi atau Kemampuan: 9,58%
• Jaringan Luas: 8,25%
• Tingkat Pendidikan: 7,58%
Direktur Riset Yakorbis, Dr.Marlizar SE, MM, menjelaskan bahwa dominasi Mualem-Dek Fadh dalam survei ini disebabkan oleh persepsi masyarakat terhadap kepedulian sosial pasangan tersebut.
“Kepedulian sosial merupakan faktor yang paling banyak disoroti masyarakat Aceh saat ini. Ini menunjukkan bahwa isu kesejahteraan dan keberpihakan pada masyarakat kecil masih menjadi daya tarik utama,” ungkapnya, Sabtu 23 November 2024, di Banda Aceh.
Meski Mualem-Dek Fadh unggul, angka 23,25% pemilih yang belum menentukan sikap membuka peluang besar bagi pasangan Bustami-Fadhil untuk mengejar ketertinggalan.
“Pasangan yang mampu memanfaatkan waktu kampanye dengan mendekati pemilih yang belum menentukan sikap memiliki peluang besar untuk mengubah peta elektoral. Segalanya masih mungkin terjadi menjelang hari pemilihan.”ujarnya





