Pengganti Tu Sop, Ujian Solidaritas dan Kematangan Politik Bustami Hamzah dan Partai Pengusung

Usman Lamreung,(Foto:Dok Jbnn.net)

JBNN.Net | Pengamat politik dan kebijakan publik, Usman Lamreueng mengatakan  meninggalnya Teungku Muhammad Yusuf A Wahab atau Tu Sop telah menciptakan kekosongan besar dalam pencalonan Bustami Hamzah sebagai Gubernur Aceh. Tu Sop bukan hanya sekadar calon Wakil Gubernur, tetapi juga simbol moderasi dan kharisma yang dihormati di kalangan masyarakat Aceh.

“Mencari pengganti Tu Sop bukanlah sekadar mencari nama, tetapi menemukan sosok yang mampu merepresentasikan nilai dan visi yang beliau bawa,” ujar Usman, Senin 9 September 2024

Bacaan Lainnya

Usman menilai, waktu yang singkat menjadi tantangan serius bagi Bustami dan partai pengusungnya. Sesuai aturan KIP Aceh, pengganti harus diajukan paling lambat tujuh hari kerja sebelum penetapan pasangan calon, dan harus melalui uji kesehatan serta mampu baca Al-Quran. “Ini bukan hanya soal administrasi, tetapi ujian kematangan politik dari partai pengusung,” tambahnya.

Proses pemilihan pengganti ini, menurut Usman, akan menguji soliditas koalisi partai pendukung. “Dalam situasi seperti ini, tarik-menarik kepentingan politik pasti terjadi. Ada partai yang mungkin mendorong kadernya sendiri, dan ini bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan baik. Bustami harus memastikan semua pihak duduk bersama, menjaga kekompakan, dan mengutamakan kepentingan bersama.”

Lebih lanjut, Usman mengkritisi langkah beberapa pihak yang sudah menyebarkan selebaran calon-calon pengganti Tu Sop di media sosial. “Di saat masyarakat Aceh masih berduka, langkah ini justru bisa mencederai perasaan publik. Bukannya mendapatkan dukungan, justru bisa menimbulkan antipati karena terkesan tidak sensitif terhadap situasi.”

Usman juga mengingatkan, sosok pengganti yang akan dipilih harus memenuhi ekspektasi publik yang tinggi. “Siapapun penggantinya, harus bisa diterima oleh masyarakat Aceh, khususnya generasi muda yang selama ini mengidolakan Tu Sop. Sosok tersebut tidak hanya harus kompeten secara politik, tetapi juga punya kedekatan dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal Aceh.”

Di tengah dinamika ini, Usman Lamreueng menekankan pentingnya Bustami Hamzah untuk mengambil keputusan yang bijak. “Jika Bustami dan partai pengusung mampu keluar dari situasi ini dengan kepala tegak, itu akan menjadi bukti kematangan politik mereka. Namun, jika gagal mengelola perpecahan, hal ini bisa menjadi titik balik yang merugikan.”

Usman Lamreueng berharap partai pengusung dapat menunjukkan kebesaran jiwa dan soliditas. “Semoga pengganti Tu Sop bukan hanya sekadar memenuhi syarat administratif, tetapi juga mampu meneruskan perjuangan Tu Sop dalam membawa Aceh menuju masa depan yang lebih baik,” pungkas Usman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *