JBNN.net, Aceh Tamiang | Hujan yang rutin mengguyur pada sore hari membuat warga di Kabupaten Aceh Tamiang dilanda rasa cemas. Berdasarkan data resmi dari kanal BMKG.co.id pada Senin (14/9/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi potensi hujan yang merata di 12 kecamatan.
Prakiraan BMKG menunjukkan ancaman hujan petir yang diselingi hujan ringan melanda area pusat aktivitas masyarakat seperti Kecamatan Karang Baru, Kota Kualasimpang, dan Kejuruan Muda.
Tak hanya di tiga kecamatan itu, kondisi serupa terjadi di wilayah pesisir dan perbatasan, yaitu Kecamatan Manyak Payed, Bendahara, Seruway, dan Banda Mulia. Sementara itu, Kecamatan Rantau berpotensi diterjang hujan petir, wilayah hulu seperti Tamiang Hulu dan Tenggulun didominasi hujan ringan, serta Kecamatan Sekerak diprakirakan mengalami cuaca dinamis antara hujan ringan hingga petir.
Kondisi cuaca basah ini berdampak langsung pada psikologis warga. Setiap kali langit mulai gelap menjelang sore, ingatan warga kembali pada musibah banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang pada 26 November lalu.
Nurmala, warga Kecamatan Kejuruan Muda, mengungkapkan ketakutannya saat melihat gumpalan awan hitam di langit sore.
“Rasa-rasanya kalau hujan gini teringat November tahun lalu, hujan gak berhenti selama 3 hari, masih ingat kali,” ujar Nurmala saat ditemui wartawan JBNN.net Senin sore (14/9/2026).
Ia menceritakan bahwa intensitas hujan yang sering turun belakangan ini membangkitkan trauma lama, terlebih waktu sudah mendekati akhir tahun. Rasa cemasnya makin menjadi lantaran letak kediamannya berdekatan langsung dengan aliran sungai utama.
“Kalau sore hujan, udah ngeri kita kalau sudah menengok langit gelap, masih ada trauma banjir bandang tahun lalu. Udah mau November pula, tahun lalu kan akhir tahun juga. Masih ada trauma rasanya,” imbuhnya.
“Apalagi rumah saya dekat kali sama Sungai Tamiang, cuma beberapa meter saja dari pinggir sungai. Jadi kalau air naik sedikit saja, kami yang paling duluan waswas,” tambahnya.
Melihat ancaman cuaca ini, Nurmala berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata di lapangan. Warga sangat berharap pemerintah mempercepat perbaikan benteng penahan air dan pengerukan sungai yang mulai dangkal, agar masyarakat tidak terus-menerus hidup dalam rasa takut setiap kali hujan turun di sore hari.
“Kami cuma minta pemerintah tanggap. Tolonglah benteng sungai diperbaiki dan alur yang dangkal itu dikeruk. Kalau penahan airnya kokoh dan sungainya dalam, setidaknya kami bisa tidur tenang dan gak ketakutan lagi tiap kali langit mendung,” pintanya.





