JBNN.net, Banda Aceh | Pembentukan generasi muda yang unggul tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik. Penguatan moral, spiritual, dan integritas menjadi fondasi penting dalam melahirkan sumber daya manusia yang berkarakter dan mampu menghadapi tantangan zaman.
Penegasan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) Grand Desain Pembinaan Karakter Mahasiswa yang digelar UPT Pendidikan Agama dan Pembinaan Karakter Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh, Senin (26/10/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Alimsyah, S.Pd., M.S., sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan pembinaan karakter di lingkungan perguruan tinggi.
Dalam forum tersebut, Alimsyah menegaskan bahwa pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kampus. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat.
“Pembinaan karakter tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kampus. Mahasiswa harus dibina tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara moral dan spiritual agar menjadi generasi yang bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penyusunan Grand Desain Pembinaan Karakter memiliki peran strategis sebagai arah dan pedoman bersama bagi seluruh unsur perguruan tinggi. Dengan adanya desain pembinaan yang terarah, proses pembentukan mahasiswa diharapkan berlangsung lebih terstruktur, berkelanjutan, serta mampu menanamkan nilai-nilai keislaman dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Alimsyah, tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi dan daya saing lulusan.
Selain itu, perguruan tinggi juga dituntut melahirkan generasi yang memiliki tanggung jawab sosial, integritas, serta mampu menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah menjadi kebutuhan penting. Sinergi tersebut diperlukan agar pembinaan generasi muda tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama yang memiliki tujuan dan arah yang jelas.
“Pembentukan karakter mahasiswa adalah investasi jangka panjang. Ini tugas bersama, kampus dan pemerintah harus berjalan seiring untuk menjaga generasi,” tegasnya.
Di akhir pemaparannya, Alimsyah menyampaikan komitmen Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh untuk terus mendukung berbagai program pembinaan karakter mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan penguatan nilai-nilai keislaman, moral, dan akhlak.
Dia berharapkan lingkungan perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat tumbuhnya generasi muda yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun sumber daya manusia Banda Aceh yang unggul, religius, dan berdaya saing di masa mendatang(***).





