JBNN.Net | Bakal calon presiden (capres) Anies Baswedan menyinggung nama Museum Tsunami yang dibangun di Aceh masih meminjam diksi ‘Tsunami’ yang berasal dari bahasa Jepang.
Padahal, ia berpendapat Indonesia memiliki bahasa lokal sendiri yang merujuk tsunami, yakni ‘smong’ dari bahasa daerah Simeulue, Aceh.
“Tsunami itu berasal dari bahasa mana? Kata tsunami? Jepang lah. Di Aceh ada museum tsunami. Pertanyaannya, ada enggak kata itu dari Bahasa Aceh? Ada, namanya ‘smong’. Bagaimana di Aceh kita buat sebuah museum meminjam bahasa Jepang sebagai museum peristiwa di 2004 yang sebenarnya bisa kita bisa sebut istilahnya Museum Smong Indonesia,” kata Anies saat menghadiri acara di Tugu Kunstkring, Menteng, Jakarta, Kamis (26/10).
Anies menjelaskan, smong diartikan sebagai hempasan gelombang air laut yang berasal dari Bahasa asli Simeulue, Aceh. Secara historis, sambungnya, smong merupakan kearifan lokal dari rangkaian pengalaman masyarakat Aceh pada masa lalu terhadap bencana gempa bumi dan tsunami.
Karena itu Aceh memiliki pengalaman sejak dahulu terkait bencana smong atau hempasan gelombang air laut itu ke daratan. Sehingga, hanya daerah tertentu saja yang memiliki kosakata smong lantaran pernah memiliki pengalaman demikian.
“Hanya daerah yang pernah merasakan smong, yang akan menyebut smong. Daerah lain enggak punya kosakata itu, karena dia tidak punya punya pengalaman atas peristiwa itu, smong, bukan tsunami,” tegas eks Mendikbud itu.
Sekilas tentang Museum Stunami Aceh
Indonesia pernah mengalami sebuah bencana dahsyat berupa gempa tsunami yang mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Sebagai bentuk mengenang para korban dari musibah gempa dan tsunami tersebut, maka dibuat Museum Tsunami Aceh.
Pada tanggal 26 Desember 2004 silam, sekira pukul 07.58 WIB, terjadi sebuah gempa dahsyat yang melanda Aceh.
Gempa berkekuatan 9.3 skala richter (SR) ini menyebabkan serangkaian tsunami dahsyat di sepanjang daratan yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.
Aceh merupakan daerah yang terkena dampak paling parah selain Sri Lanka, Thailand, dan India.
Banyak korban jiwa dalam bencana ini, bahkan sampai menyentuh pada angka 170.000 jiwa. Oleh karena itu, Museum Tsunami Aceh dibuat untuk mengenang korban dari tsunami Aceh tersebut, sekaligus tempat edukasi dan pusat evakuasi ketika bencana.
Museum ini berdiri pada tahun 2008 bulan Februari. Perancang Museum ini adalah Ridwan Kamil yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Ia membuat desain yang memenangkan sayembara tingkat internasional pada tahun 2007 dalam rangka memperingati peristiwa tsunami tahun 2004.
Museum Tsunami ini menyimpan sekitar 6.038 koleksi. Koleksi tersebut dibagi ke dalam beberapa jenis, yaitu koleksi etnografika, arkelogika, biologika, teknologika, keramonologika, seni rupa, numismatika dan heraldika, geologika, filologika, serta historika dan ruang audio visual.
Koleksi ini tidak dipamerkan secara serentak, ada beberapa yang nantinya diadakan dalam pameran temporer, jadi bagi pengunjung juga dapat menyaksikan semuanya secara bersamaan.
Pengelola museum merotasi koleksi setiap enam bulan sekali. Dalam satu pameran, terdapat sekitar 1.300 koleksi yang tersebar di tiga titik, yaitu rumah Aceh, pameran temporer, dan ruang pameran tetap.
Ketika memasuki ruangan museum, kalian akan melewati sebuah lorong kecil dengan pencahayaan minim. Lorong ini membuat emosi pengunjung campur aduk. Setelah itu ada ruang bernama The Light of God<span;> yang terdapat ratusan ribu nama korban dari bencana Tsunami Aceh.
Museum Tsunami Aceh terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda No 3, Gampongn Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.
Posisinya tidak jauh dari Masjid Baiturrahman, sekitar 11 menit jika kalian berjalan kaki dan 1 menit ketika mengendarai kendaraan bermotor serta bersebelahan dengan Kompleks Makam Belanda (Kerkhof).
(CNNIndonesia)





