Tanggapan Terhadap Buku “Praktik Islam Wasathiyah di Institusi Pendidikan Dayah di Aceh

Foto:Ist

JBNN.Net | Fadhil Rahmi, Lc, M.Ag, Alumnus Universitas Al Azhar Mesir mengatakan sangat sangat sepakat dengan judul dan isi buku yang ditulis Dr. Zulkhairi tersebut, bahkan dirinya mendukung diperbanyak buku ini.

“Dan Insya Allah dalam disertasi saya juga akan mengkaji hal yang sama, tentang moderasi agama. Moderasi agama, ada yang kebablasan ditafsir oleh para pihak menurut kepentingannya,” ujar Senator  DPD RI asal Aceh itu.

Bacaan Lainnya

Buku ini, lanjut Fadhil Rahmi, karya aktifis dayah dari ISAD Aceh menjadi model moderasi atau wasathiyah versi Aceh yang digagas oleh alumni Dayah. Menurutnya, Al-Qur’an menarasikan mengenai umat Islam sebagai umat yang wasathiyah dalam Q.S al-Baqarah [2]: 143): “Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….”.

“Islam yg diajarkan di dayah tidak intoleran, menghargai kearifan lokal, menjunjung komitmen kebangsaan, dan tidak mengajarkan radikalisme,” pungkas Fadhil Rahmi.

Dr. Tgk  H. Faisal M. Nur, Lc, MA, Pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) dan juga Dosen UIN Ar-Raniry memaparkan,  Islam wasathiyah adalah agama yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW. “Makanya tidak asing jika Dr Zulkhairi menemukan islam wasathiyah di dayah, karena sanad bersambung kepada sang pembawa risalah. Bahkan kehidupan di dayah mirip dengan ahlu suffah yang rela hidup miskin hijrah dari mekkah menuju madinah,” ungkapnya.

Disebutnya, moderasi agama yang sesungguhnya bisa dilihat langung dalam piagam madinah. “Washatiyah (moderasi) terbagi dua yaitu (1) Moderasi dalam pandangan luas yaitu moderasi antar beragama. (2) Washatiyah (moderasi) dalam pandangan khusus yaitu moderasi antar sesama muslim sebab ada dalil yang menjelaskan tentang perpecahan, namun demikian harus mengambil yang banyak pengikut yang sawadhul a’adham yaitu
<span;>Semua umat Nabi Muhammad Saw masuk syurga walaupun kadangkala terlambat masuknya.

“Hal terpenting adalah saling menghormati satu sama lain antar sesama muslim supaya ukhuwah islamiyah tetap terjaga dengan baik,” pungkas Faisal M. Nur.

Selanjutnya Drs. H.Saifuddin A. Rasyid, M.LIS, Kepala Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama (PKMB) UIN Ar-Raniry membeberkan kalau Penulis Buku, Dr Zulkhairi mendapat salam langsung via dirinya melalui WhatsAap dari sang pencetus Moderasi Beragama di Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin yang merupakan mantan Menteri Agama RI 2014-2019.

Dalam tanggapannya, Saifuddin A. Rasyid mengatakan kalau pengertian Moderasi Agama adalah konsep yang menekankan pada sikap saling menghormati dan toleransi di antara kelompok agama berbeda. Intinya kata dia, Moderasi Agama adalah beragama-lah dengan baik dan benar menurut agama masing-masing.

“Moderasi agama bukan seolah agama dan islam yang dimoderasi, tapi tetap atas pengertian moderasi yang telah disepakati. Secara fakta, bahwa di dayah mengajar moderasi agama, dan bisa dilihat langsung dari buku ini,” ujar Dosen UIN Ar-Raniry ini seraya merekomendasi buku wasathiyah ini dibaca oleh mahasiswa dan semua kalangan.

Saifuddin A. Rasyid kemudian mentamsilkan kegiatan Maulid yang menimbulkan perdebatan. “Toleransi masalah maulid misalnya, kalau dikategori dalam ibadah maka akan jadi masalah, tapi jika itu dikategorikan budaya dan muamalah maka jadi wilayah moderasi agama internal agama. Karena kekacauan itu ada tudingan-tudingan, kalau tidak ditanggapi juga jadi masalah, tapi diberi reaksi secara proporsional agar tidak masuk wilayah radikal juga,” katanya.

“Perlu dijelaskan juga bahwa di dayah dan perguruan tinggi sebenarnya tidak ada  dikotomi (pemisah) pendidikan umum dan agama, yang ada fardhu ain dan kifayah. Jadi ilmu umum fardhu juga, tapi bersifat kifayah,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *