JBNN.net | Gelombang kritik mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya semakin memanas setelah beredarnya informasi bahwa Bupati Aceh Selatan memilih berangkat umrah di saat masyarakat Trumon masih berjuang pulih dari banjir besar.
Keputusan ini menuai kekecewaan mendalam, terlebih karena sebelumnya bupati sendiri menyatakan “angkat tangan dan tidak mampu menangani banjir Trumon”, sebuah pernyataan yang dinilai memperlihatkan hilangnya ketegasan seorang pemimpin daerah.
Sementara itu, di tengah kondisi bencana yang masih menyisakan lumpur, rumah rusak, dan warga yang kekurangan logistik, mahasiswa justru mengambil peran garda terdepan. Mereka turun ke lapangan, membuka donasi, mengumpulkan bantuan pakaian, makanan, serta kebutuhan darurat lainnya.
Salim Syuhada JA salah satu mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya, menyampaikan kritik paling tajamnya. Ia menilai tindakan bupati sebagai bentuk kegagalan moral yang sulit diterima.
Meskipun tanpa APBD, tanpa fasilitas, justru harus menanggung peran moral yang seharusnya dipimpin langsung oleh pemerintah.
“Kami di lapangan mengangkat karung bantuan, mengetuk pintu masyarakat, bahkan merogoh kantong sendiri untuk bantu saudara kami di Trumon Raya. Tapi pemimpin kami justru memilih pergi umrah. Bukan ibadahnya yang kami persoalkan tapi waktu dan prioritasnya. Bagaimana mungkin rakyat sedang tenggelam, sementara pemimpinnya malah menghilang?*” tegas Salim,Jumat 5 Desember 2025.
Salim juga menambahkan bahwa mahasiswa bukan ingin mencari panggung, tetapi ingin menunjukkan bahwa nurani tidak boleh kalah dari jabatan.
“Kalau mahasiswa saja bisa hadir di tengah rakyat tanpa memiliki kekuatan anggaran, mengapa seorang bupati yang punya otoritas dan sumber daya justru memilih pergi? Ini pertanyaan moral yang harus dijawab, bukan disembunyikan”,ujarnya
Selain itu Mahasiswa Bakongan Raya dan Trumon Raya menegaskan bahwa tindakan ini mencerminkan minimnya empati dan lemahnya sense of crisis dalam tubuh kepemimpinan daerah.
Oleh sebab itu mereka mendesak bupati untuk memberikan klarifikasi terbuka kepada publik dan meminta pemerintah kabupaten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tanggung jawab moral yang ditampilkan selama bencana.
“Sejarah bukan hanya mencatat derasnya banjir, tapi juga siapa yang hadir dan siapa yang pergi. Dan dalam tragedi ini, rakyat tahu persis siapa yang benar-benar berdiri di sisi mereka.”tuturnya.





