285 Kasus Baru Tahun Ini, Aceh Perkuat Layanan HIV hingga ke Puskesmas

dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM,(Foto:Dok Jbnn.net)

JBNN.net |  Memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada 1 Desember, Dinas Kesehatan Aceh menegaskan pentingnya penguatan layanan HIV di seluruh wilayah provinsi.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr. Iman Murahman, Sp.KKLP, MKM, menyampaikan bahwa Banda Aceh menjadi pusat layanan terbesar dengan sekitar 20 persen layanan HIV berada di ibu kota provinsi.

“Alhamdulillah, setiap tahun kita memperingati Hari AIDS Sedunia sebagai momentum mengingatkan kembali pentingnya kewaspadaan terhadap HIV. Penguatan layanan di daerah sangat perlu, apalagi sekitar 20 persen layanan HIV ada di Banda Aceh,” ujar dr. Imam, Senin (1/12).

Menurut laporan Dinkes Aceh, sejak 2004 hingga Oktober 2025 tercatat total 2.085 kasus HIV di Aceh, seluruhnya tercatat secara by name, by address. Khusus tahun 2025, terdapat 285 kasus baru. Kelompok usia 21–30 tahun menjadi yang terbanyak terdampak, mencapai sekitar 45 persen. Namun dr. Imam menyoroti tren mengkhawatirkan pada kelompok usia muda.

Foto:Dok Jbnn.net

“Yang harus menjadi perhatian, kasus pada usia 11–20 tahun sudah mencapai 12 persen dari total kasus tahun ini. Ini peningkatan signifikan dan sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa faktor keluarga memiliki peran besar dalam pencegahan, termasuk kurangnya edukasi terkait fungsi organ reproduksi dan perilaku seksual berisiko. “Banyak anak tidak memahami fungsi organ reproduksi. Ini menyebabkan munculnya perilaku seksual yang tidak semestinya, yang kemudian berpotensi menularkan HIV pada remaja,” jelasnya.

Untuk deteksi dini, seluruh puskesmas di Aceh telah menyediakan Rapid Diagnostic Test (RDT) HIV. Pemeriksaan HIV juga menjadi bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bagi delapan kelompok berisiko, seperti ibu hamil, pasien TBC, lelaki seks lelaki, waria, pengguna jarum suntik, warga binaan pemasyarakatan, hingga calon pengantin.

“Setiap pemeriksaan catin di puskesmas wajib disertai skrining HIV. Jika hasilnya positif, akan langsung dilakukan pemeriksaan lanjutan,” tambah dr. Imam.

Sebagai imbauan, dr. Imam meminta keluarga meningkatkan pengawasan dan pendidikan kepada anak-anak, terutama remaja.

“Penularan HIV pada remaja meningkat. Anak-anak SMP harus sudah diberikan edukasi yang benar sejak dari rumah, terutama tentang organ reproduksi, cara reproduksi yang benar, serta bahaya perilaku seksual yang tidak normal,” tegasnya.

Ia berharap keluarga menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan HIV. “Edukasi harus dimulai dari keluarga masing-masing. Ini penting untuk melindungi anak-anak kita,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *