JBNN.net, Kuala Simpang | Masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang kembali diuji dengan kemunculan ancaman baru. Belum pulih dari trauma bencana banjir yang melanda pemukiman mereka tahun lalu, kini warga harus menghadapi pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai mengepung kawasan tersebut.
Kondisi ini mulai dirasakan sejak Rabu (14/10/2026) dan kian memburuk pada Kamis (15/10/2026). Paparan asap tidak hanya mengaburkan pandangan di sejumlah ruas jalan, tetapi juga mulai menurunkan kualitas udara hingga mengganggu kesehatan saluran pernapasan warga.
Julian Najeh, salah seorang warga Kecamatan Karang Baru, menyampaikan bahwa keberadaan asap kini sudah berada pada taraf mengganggu aktivitas harian. Menurutnya, rasa tidak nyaman pada pernapasan membuat warga tidak punya pilihan selain kembali mengenakan masker saat keluar rumah.
“Perhitungan saya itu sejak kemarin, sudah terasa asap menyelimuti sebagian wilayah Aceh Tamiang. Yang jelas masyarakat sudah merasa terganggu dengan asap ini, paling tidak pernapasan. Makanya kami ini mau aktivitas ke mana-mana sudah memakai masker,” ujar Julian Najeh di Karang Baru, Kamis (15/10/2026).
Julian menegaskan, situasi ini sangat membebankan mental masyarakat lokal. Memori kelam bencana banjir besar tahun lalu masih berbekas di ingatan warga, kini mereka justru dipaksa bertarung dengan tingginya polusi udara yang membatasi ruang gerak.
“Ya jelas mengganggu. Belum lagi tahun lalu belum hilang trauma banjir, ini sudah datang asap lagi. Gimana kami masyarakat Aceh Tamiang tidak stres dengan kondisi seperti ini?” tuturnya dengan nada kecewa.
Sebagai bentuk perlindungan mandiri di tengah minimnya opsi lain, Julian memperketat pengawasan terhadap keluarganya. Ia mewajibkan anak-anaknya selalu memakai alat pelindung diri agar tidak terpapar langsung oleh udara beracun tersebut.
“Yang jelas, saya sudah menyuruh kepada anak-anak setiap keluar rumah itu wajib menggunakan masker,” kata Julian.
Melihat ancaman kesehatan yang kian nyata, ia mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk mengambil tindakan konkret dan tidak menganggap remeh persoalan asap lintas wilayah ini. Pemadaman di titik sumber api harus dilakukan secara tuntas agar dampaknya tidak terus mengorbankan masyarakat di daerah lain.
“Untuk pemerintah tolonglah dilihat kondisi seperti ini, kami pun mau beraktivitas juga tidak bisa. Khususnya kepada Presiden, tolong diselesaikan secara serius. Karena kalau asap begini datangnya dari jauh, entah dari Palembang atau Kalimantan, ini sudah mengganggu aktivitas masyarakat semua,” pungkasnya.
Hingga Kamis sore, warga Karang Baru terus mengimbau sesama masyarakat untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak, seraya menanti langkah nyata pemerintah dalam menangani karhutla.





