Sentral Telepon, Bangunan Sejarah Peninggalan Kolonial Belanda

 

Bangunan Peninggalan Belanda “Sentral Telepon(Foto:Ist)

JBNN.Net | Aceh menjadi daerah yang pernah diduduki oleh kolonial Belanda, Jepang, dan Portugis. Menjadi daerah yang menghasilkan Sumber Daya Alam yang melimpah membuat provinsi yang berjuluk Serambi Mekkah ini kerap disinggahi beberapa negara asing yang ingin menguasai daerah di ujung Pulau Sumatera. 

Menduduki wilayah Aceh selama bertahun-tahun tentu banyak meninggalkan bangunan bersejarah. Kota Banda Aceh sendiri merupakan bagian daerah Aceh yang sempat disinggahi kolonial Belanda. Keberadaanya dibuktikan dengan salah satu situs yakni Sentral Telepon.

Bangunan ini, kini dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat sekitar. Berada di sisi jantung Kota Banda Aceh, bangunan sentral telepon dikelilingi oleh  Taman Bustanussalatin, Taman Putroe Phang, Tugu Simpang Jam serta tidak jauh dari Museum Tsunami dan Masjid Raya Baiturrahman.

Pohon-pohon nan rimbun mengelilingi bangunan itu. Suasana teduh kala terasa saat melewati jalan Teuku Umar, Desa Suka Ramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. 

Bangunan yang masih kokoh itu mirip dengan bangunan bernuansa Eropa. Dengan nuansa putih bersih, jika dilihat diperkirakan bangunan sentral telepon ini memiliki ketinggian hingga delapan meter. 

Lokasinya dikepung jalanan empat arah. Belanda menyebut gedung tersebut sebagai Kantor Telepon Koetaradja (Banda Aceh).

Dalam catatan sejarah, bangunan bulat seperti mercusuar ini dibangun semasa masih berkecamuk perang di Aceh yakni tahun 1903 atau masa Pemerintah Kerajaan Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903) yang menjadi salah satu raja Islam pada masa itu.

Karena kecintaanya  pada Islam Sulatan Muhammad Daud Syah yang di Asingkan ke maluku malah di sambut baik oleh Raja-Raja samu bahkan sebagian dari mereka memeluk agama Islam.

Begitu pula dengan Bangunan itu dibangun dengan dinding tebal dengan tujuan dapat dijadikan sebagai perisai apabila sewaktu-waktu ada serbuan musuh.

Bagian atas bangunan yang dibangun menggunakan kayu itu tertera angka 1903 yang menunjukkan tahun bersejarah saat itu. Bukan hanya tebal tanpa ukiran, bangunan sentral telepon ini di relief sedemikian rupa.

Bagian depan juga terdapat satu pintu berukuran 1,5 meter yang dapat digunakan untuk akses keluar masuk. Dibentengi dengan jeruji besi, pintu tersebut memang telah dikunci sejak dulu. 

Namun sayangnya, bangunan bersejarah ini tidak kerap dilupakan oleh masyarakat. Jika kita mengintip di dalamnya, banyak peralatan rusak yang terbengkalai. Dibalik jeruji besi itu, masyarakat dapat melihat kondisi di dalam bangunan.

Bagian Pintu masuk Sentral Telepon Peninggalan Kolonial Belanda (Foto:Ist)

Sub Koordinator Permuseuman dan Pelestarian Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Yudi Andika mengatakan, bangunan itu dimanfaatkan Belanda untuk melakukan komunikasi jarak jauh.

“Kala itu sentral telepon ini digunakan untuk berkomunikasi ke Batavia, untuk memudahkan koordinasi dalam perang Aceh,” kata Yudi Jum’at (10/3/2023).

Bahkan, lanjut Yudi sentral telepon ini merupakan sistem telepon tercanggih pada masa pemerintahan Hindia-Belanda zaman dulu.

 

“Sistem teleponnya itu tercanggih, terlengkap dan termodern pada saat itu di seluruh Indonesia,” ucapnya. 

Dimana, bangunan bersejarah Aceh ini memiliki enam kabel dibawah laut sehingga menghubungkan telepon hingga ke negara luar seperti Singapura.

 

“Bahkan dulu, saat orang Batavia ingin telepon ke Singapura itu harus melalui sentral telepon ini dulu, dari sini baru disambungkan ke Singapura,” katanya.

 

Sedangkan kantor pelayanan telepon untuk umum, baru dibangun pada tahun 1931 di lokasi kantor telepon sekarang dengan gedung dan peralatan modern, namun sayangnya gedung yang aslinya telah di rubuhkan tanpa meninggalkan bekas sebagai bukti sejarah perteleponan di Aceh. 

Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, gedung sentral telepon difungsikan juga untuk keperluan perang. Setelah kemerdekaan Indonesia sampai menjelang tahun 1960, bangunan kuno ini masih dipakai sebagai kantor telepon Militer Kodam Iskandar Muda yang disebut Wiserbot (WB) Taruna. 

Inilah gedung pelayanan telepon pertama dan satu-satunya yang beroperasi semenjak tahun 1903 milik Militer Belanda khusus untuk keperluan perang Aceh. 

Selanjutnya, gedung itu pernah digunakan sebagai kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh dan kantor redaksi surat kabar Atjeh Post. Bahkan sempat menjadi Kantor PSSI Aceh. Kini tempat tersebut kosong di bawah pengawasan Balai Pelestarian Cagar Budaya.(Adv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *