Pendidikan Aceh dan Guru Yang Terlupakan

Setiap tanggal 2 September, Aceh kembali memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda). Tahun ini, Aceh memasuki peringatan Hardikda ke-67.

Enam puluh tujuh tahun bukan usia yang muda. Dalam rentang waktu sepanjang itu, seharusnya Aceh tidak lagi sibuk bertanya apakah pendidikan penting. Pertanyaan yang seharusnya diajukan hari ini jauh lebih tajam: mengapa setelah 67 tahun, pendidikan Aceh masih harus berjuang untuk menjadi prioritas yang sesungguhnya?

Hardikda lahir dari sebuah kesadaran historis yang besar. Pada 2 September 1959, Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam diresmikan sebagai simbol tekad Aceh untuk membangun masa depan melalui ilmu pengetahuan. Para pendahulu kita memahami satu hal yang sangat mendasar: bangsa yang baru keluar dari konflik, keterbelakangan, dan ketidakpastian hanya dapat bangkit apabila manusia dibangun melalui pendidikan.

Namun, 67 tahun kemudian, pertanyaan yang menggantung justru semakin menyakitkan: apakah cita-cita besar itu benar-benar telah kita teruskan, atau hanya kita kenang setiap tahun dalam upacara dan pidato seremonial?

*Pendidikan Bukan Sekadar Bangunan*

Aceh tidak kekurangan sekolah. Bangunan pendidikan berdiri di banyak tempat. Papan nama sekolah semakin bagus. Program-program pendidikan terus berganti. Kurikulum datang dan pergi. Pelatihan dilakukan. Rapat diselenggarakan. Anggaran dibahas.

Tetapi pendidikan tidak hidup di dalam gedung. Pendidikan hidup di dalam ruang kelas. Dan di dalam ruang kelas itu, ada seorang guru.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan pendidikan Aceh, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan guru. Sebab tidak ada sistem pendidikan yang dapat melampaui kualitas manusia yang menjalankannya.

Teknologi dapat dibeli. Gedung dapat dibangun. Kurikulum dapat diganti. Aplikasi dapat diunduh. Tetapi guru yang berkualitas tidak dapat diciptakan secara instan.

Ia dibentuk oleh pendidikan, pengalaman, ketekunan, pembelajaran sepanjang hayat, dan—yang sering dilupakan negara—oleh kehidupan yang layak.

Di sinilah persoalan pendidikan kita menjadi paradoks. Kita ingin pendidikan Aceh unggul, tetapi kadang lupa menanyakan apakah guru telah cukup kuat untuk menjalankan tuntutan keunggulan itu.

Kita menuntut guru kreatif, sementara ruang kreativitasnya dibatasi. Kita menuntut guru inovatif, tetapi tidak selalu menyediakan ekosistem yang memungkinkan inovasi tumbuh.

Kita menuntut guru meningkatkan kualitas pembelajaran, sementara tidak semua persoalan kesejahteraan mereka benar-benar diselesaikan. Kita menuntut guru menciptakan generasi masa depan, tetapi terlalu sering memperlakukan guru sebagai sekadar pelaksana administrasi pendidikan.

Negara ingin hasil yang luar biasa dari guru, tetapi tidak selalu memberikan kondisi yang luar biasa bagi guru untuk bekerja.

*Guru: Pahlawan yang Terlalu Sering Dipuji untuk Tidak Dibayar dengan Layak*

Ada satu kebiasaan yang tampaknya terus diwariskan dalam dunia pendidikan Indonesia: semakin besar pengabdian seorang guru, semakin mudah negara menyebutnya pahlawan.

Sebutan itu tentu mulia. Tetapi ada persoalan moral ketika pujian terhadap pengabdian justru digunakan, secara sadar atau tidak, untuk menutupi kewajiban negara terhadap kesejahteraan guru.

Guru diminta ikhlas. Guru diminta sabar. Guru diminta mengabdi. Guru diminta mencintai profesinya. Semua itu benar.

Tetapi pertanyaannya: *apakah keikhlasan dapat digunakan sebagai alasan untuk membiarkan seorang guru hidup dalam ketidakpastian?*

Pengabdian bukan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan. Kesabaran bukan alasan untuk menunda keadilan.

Cinta terhadap profesi bukan alasan untuk mengurangi tanggung jawab negara. Guru bukan relawan pembangunan. Guru adalah tenaga profesional yang memegang salah satu fungsi paling strategis dalam keberlangsungan sebuah bangsa.

Ironisnya, kita sering kali baru menyadari pentingnya guru ketika muncul masalah sosial: rendahnya kualitas sumber daya manusia, kekerasan, kriminalitas, intoleransi, pengangguran, degradasi moral, hingga rendahnya daya saing generasi muda.

Padahal hampir semua persoalan masa depan itu memiliki satu ruang pencegahan yang sama: pendidikan. Dan di tengah pendidikan itu, ada guru.

*Masa Depan Aceh Tidak Akan Lebih Baik daripada Kualitas Gurunya*

Aceh sering berbicara tentang masa depan. Kita berbicara tentang sumber daya alam. Kita berbicara tentang investasi. Kita berbicara tentang pembangunan infrastruktur. Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Tetapi terlalu sedikit yang menyadari bahwa seluruh pembangunan itu akan sia-sia apabila Aceh gagal membangun manusia. Sumber daya alam tanpa sumber daya manusia hanya akan menghasilkan ketergantungan.

Anggaran besar tanpa manusia berkualitas hanya akan menghasilkan birokrasi besar. Teknologi tanpa pendidikan hanya akan menghasilkan pengguna, bukan pencipta.

Karena itu, masa depan Aceh sesungguhnya sedang berlangsung setiap hari di dalam ribuan ruang kelas. Di sanalah masa depan itu dibentuk.

Di sanalah seorang anak belajar berpikir. Di sanalah karakter dibentuk. Di sanalah disiplin diperkenalkan.

Di sanalah kemampuan bertanya diasah. Di sanalah keberanian untuk bermimpi ditanamkan. Dan di balik seluruh proses itu, berdiri seorang guru yang sering kali bekerja jauh melampaui apa yang tercantum dalam uraian tugasnya.

*Guru tidak hanya mengajar mata pelajaran.*
Guru menjadi orang tua kedua. Guru menjadi pendengar. Guru menjadi mediator. Guru menjadi motivator.

Guru bahkan sering menjadi tempat terakhir bagi seorang anak untuk menemukan kepercayaan diri ketika rumah dan lingkungannya gagal memberikannya. Tetapi pertanyaannya tetap sama: seberapa serius negara memperlakukan orang yang memikul tanggung jawab sebesar itu?

*Pendidikan Tidak Boleh Dikelola dengan Logika Proyek*

Salah satu penyakit pembangunan pendidikan adalah kecenderungan melihat pendidikan melalui ukuran jangka pendek.

Berapa gedung yang dibangun? Berapa pelatihan yang dilaksanakan? Berapa kegiatan yang dilakukan? Berapa anggaran yang terserap?

Padahal pendidikan tidak dapat diukur hanya dengan logika proyek. Pendidikan adalah investasi antargenerasi. Hasil pendidikan hari ini mungkin baru terlihat sepuluh atau dua puluh tahun kemudian.

Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada seorang anak hari ini mungkin tidak akan pernah tahu bahwa nilai itu kelak mencegah anak tersebut menjadi pejabat korup. Seorang guru yang mengajarkan keberanian berpikir mungkin tidak akan pernah tahu bahwa muridnya kelak menjadi ilmuwan.

Seorang guru yang menyelamatkan seorang anak dari putus sekolah mungkin tidak akan pernah tahu bahwa tindakannya telah mengubah sejarah sebuah keluarga. Inilah mengapa pendidikan tidak boleh diperlakukan sebagai proyek tahunan. Pendidikan adalah investasi peradaban. Dan guru adalah investor utamanya.

*Bahaya Ketika Guru Terlalu Sibuk Bertahan Hidup*

Guru yang terus-menerus dibebani persoalan ekonomi akan sulit diminta memberikan seluruh energi terbaiknya bagi pendidikan.

Ini bukan soal dedikasi. Ini soal realitas manusia. Seorang guru tetap memiliki keluarga. Memiliki kebutuhan hidup. Memiliki anak yang harus sekolah. Memiliki kebutuhan kesehatan. Memiliki tanggung jawab sosial.

Kita tidak boleh menuntut seorang guru untuk menghasilkan generasi unggul sambil membiarkannya terus-menerus berjuang memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya.

Guru yang sejahtera bukan berarti guru yang dimanjakan. Guru yang sejahtera adalah guru yang memiliki ketenangan untuk berpikir, membaca, belajar, menciptakan, dan mendidik. Karena itu, kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan gaji.

Kesejahteraan adalah bagian dari kebijakan pendidikan. Ketika guru memiliki kehidupan yang layak, profesi guru akan semakin dihormati. Ketika profesi guru dihormati, generasi terbaik tidak akan ragu memilih menjadi guru. Ketika generasi terbaik menjadi guru, kualitas pendidikan akan meningkat. Dan ketika kualitas pendidikan meningkat, masa depan Aceh akan memiliki fondasi yang lebih kuat. Sederhana. Tetapi tampaknya kita sering gagal melihat hubungan yang sangat jelas ini.

*Hardikda Harus Menjadi Hari Evaluasi, Bukan Sekadar Perayaan*

Hardikda seharusnya bukan hanya momentum memakai seragam upacara dan mendengarkan amanat. Hardikda harus menjadi hari ketika Aceh berani bercermin.

Sudah sejauh mana pendidikan kita berkembang? Apakah anak-anak Aceh telah memperoleh kesempatan pendidikan yang setara? Apakah sekolah telah benar-benar menjadi ruang untuk berpikir dan berkembang ? Apakah guru telah memperoleh penghargaan yang sepadan dengan tanggung jawabnya?

Apakah kebijakan pendidikan lahir dari kebutuhan peserta didik dan guru, atau hanya dari logika birokrasi? Apakah pendidikan kita benar-benar mempersiapkan generasi masa depan, atau sekadar mempersiapkan mereka untuk lulus ujian?

*Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak nyaman.*

Tetapi pendidikan yang sehat memang harus berani menghadapi ketidaknyamanan. Sebab pendidikan yang hanya ingin mendengar pujian akan berhenti berkembang.

*Jangan Bangga dengan Pendidikan yang Melupakan Gurunya*

Aceh memiliki sejarah pendidikan yang besar. Kita memiliki tradisi keilmuan. Kita memiliki ulama. Kita memiliki dayah. Kita memiliki sekolah. Kita memiliki perguruan tinggi. Kita memiliki sejarah intelektual yang tidak kecil.

Tetapi sejarah besar tidak otomatis menjamin masa depan besar. Masa depan harus dibangun. Dan membangun masa depan berarti membangun manusia.

Sementara membangun manusia berarti membangun pendidikan. Dan membangun pendidikan berarti—salah satunya—menghormati, memperkuat, melindungi, dan menyejahterakan guru.

*Tidak cukup hanya memberi guru ucapan terima kasih setiap Hari Guru.*

Tidak cukup hanya menyebut guru sebagai pahlawan. Tidak cukup hanya mengajak guru untuk mengabdi. Negara dan pemerintah harus berani menjawab dengan kebijakan nyata.

Sebab guru tidak membutuhkan romantisasi pengabdian. Guru membutuhkan keadilan. Guru tidak meminta untuk dimuliakan secara berlebihan. Guru meminta agar profesinya tidak diperlakukan secara sembarangan.

Guru tidak meminta fasilitas kemewahan. Guru meminta kepastian bahwa ketika ia menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk mendidik generasi bangsa, negara tidak menutup mata terhadap kehidupannya.

*Menyelamatkan Masa Depan Aceh*

Pada Hardikda ke-67 ini, mungkin kita harus berhenti sejenak dari perayaan dan mulai berbicara dengan lebih jujur.

Masa depan pendidikan Aceh tidak akan ditentukan oleh seberapa meriah upacara Hardikda.

Tidak pula oleh seberapa indah spanduk dan slogan yang dipasang. Masa depan pendidikan Aceh akan ditentukan oleh keberanian kita mengambil keputusan hari ini.

Apakah pendidikan benar-benar menjadi prioritas? Apakah guru benar-benar ditempatkan sebagai profesi strategis? Apakah kesejahteraan guru dipandang sebagai investasi? Apakah sekolah diberikan ruang untuk menjadi pusat pembentukan manusia, bukan sekadar mesin administrasi?

*Enam puluh tujuh tahun setelah Hardikda pertama diperingati, Aceh tidak membutuhkan lebih banyak slogan.*

Aceh membutuhkan keberanian. Keberanian untuk mengakui bahwa masih banyak yang belum selesai. Keberanian untuk memperbaiki kebijakan. Keberanian untuk menempatkan pendidikan di atas kepentingan politik jangka pendek. Dan, yang paling penting, keberanian untuk mengatakan bahwa tidak mungkin membangun pendidikan yang hebat dengan terus mengabaikan kesejahteraan orang-orang yang menjalankan pendidikan itu.

*Guru telah terlalu lama diminta mengabdi tanpa banyak bertanya.*

Kini, mungkin sudah saatnya negara menjawab pertanyaan para guru. Jika masa depan bangsa begitu penting, mengapa orang-orang yang membangun masa depan itu masih harus terus memperjuangkan hak dan kesejahteraannya sendiri?

*Hardikda ke-67 seharusnya menjadi pengingat:* Aceh boleh membangun jalan, gedung, dan berbagai proyek pembangunan. Tetapi apabila guru tidak dibangun martabat dan kesejahteraannya, maka sesungguhnya Aceh sedang membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan dikenang dari seberapa megah gedung sekolah yang dibangunnya.

Bangsa akan dikenang dari seberapa serius ia menghargai orang-orang yang mengajarkan generasi mudanya untuk menjadi manusia. Dan orang itu bernama: *GURU.*

*Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67.* Jangan hanya rayakan pendidikan.
Selamatkan guru.
Karena menyelamatkan guru berarti menyelamatkan masa depan Aceh.

 

 

 

Opini

Penulisa : Dra. Tisara, M.S.
Guru Ahli Madya pada SMA Negeri 1 Krueng Barona Jaya, Aceh Besar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *