Mesjid Raya Baiturrahman,Destinasi Wisata Relegi Terpopuler di Aceh

Suasana Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh(Foto:Ist)

 

Banda Aceh | Tidak lengkap rasanya jika anda berwisata ke Aceh tidak mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. masjid yang berdiri megah di tengah pusat kota  dan penuh nilai sejarah  ini merupakan tempat beribadah umat Islam tentunya Masjid Raya Baiturrahman kini telah menjadi  ikon wisata relegi yang sangat populer di Banda Aceh

Sebagai Daerah yang berlaku Syariat Islam  ada aturan yang diberlakukan saat anda mengunjungi mesjid Kebanggaan rakyat Aceh ini.

Misalnya ada aturan mengunakan pakaian menutup Aurat,anjuran tersebut terliat jelas saat anda mulai memasuki perkarangan Mesjid ini, digerbang pintu masuk tepatnya di bagian atas gapura  di tuliskan “Perhatian Anda Memasuki Kawasan Wajib berbusana Muslim dan Muslimah”begitu dituliskan dalam tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia,arab,dan Inggris.

Begitupun peraturan tersebut bukan saja berlaku bagi umat Islam bahkan berlaku bagi semua pengunjung termasuk non muslim baik dari lokal,Nasional maupun turis manca negara.

Tak hanya itu, peraturan juga berlaku bagi pengunjung jika tiba nya waktu shalat para diajurkan meninggalkan aktivitas sejenak untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Turis Mancanegara Mengunjungi Mesjid Raya Baiturrahman(foto:Ist)

Mesjid Raya Baiturrahman merupakan satu-satunya bangunan yang tetap bertahan dan berdiri kokoh, di saat bangunan lain di sekitarnya luluh lantak dihantam tsunami pada 2004 silam. Namun, Masjid Raya Baiturrahman bukanlah satu-satunya wisata religi di Aceh yang bisa kamu kunjungi.

Kemudian Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sejak dibangun telah dironvasi beberapa kali,terakhir di renovasi sejak  masa pemerintahan Gubernur Zaini Abdullah pada tahun 2015.

Saat itu pemerintah Aceh membangun halaman mesjid yang lebih modern dilengkapi dengan 12 payung,tempat wudhu,area parkir bawah tanah,dan berbagai infratruktur lainya.

Usai direnovasi Mesjid Raya Baiturahman menambah pesona wisata relegi bahkan hampir menyerupai masjidil haram sehingga menambah daya tarik bagi wisatawan relegi.

Wisatawan Asing mengunakan Busana Mulimah

(Foto:Ist)


Sekedar mengulang Kembali, bahwa Awal masjid ini yang asli dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ada juga yang mengatakan, bahwa masjid yang asli dibangun lebih awal pada tahun 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah. Pada saat itu status masjid ini sebagai masjid kerajaan yang menampilkan atap jerami berlapis-lapis yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh.

Kemudian ketika Kolonial Hindia Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada tanggal 10 April 1873, masyarakat Aceh menggunakan bangunan masjid yang asli sebagai benteng pertempuran, dan menyerang pasukan Royal Belanda dari dalam masjid. Pasukan Royal Belanda pun membalas dengan menembakkan suar ke atap jerami masjid, yang menyebabkan masjid terbakar. Ibadah Salat dan lainnya saat itu direlokasi ke Masjid Baiturrahim Ulee Lheue. Jenderal Van Swieten pun menjanjikan pemimpin lokal bahwa dia akan membangun kembali masjid dan menciptakan tempat yang hangat untuk permintaan maaf.

Lalu pada tanggal 9 Oktober 1879, Kerajaan Belanda membangun kembali masjid ini sebagai pemberian dan untuk mengurangi kemarahan rakyat Aceh. Konstruksi dimulai pada tahun 1879, ketika peletakan batu pertama diletakkan oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, yang kemudian menjadi Imam pertama masjid, dan diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1881 ketika masa pemerintahan Sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah.

Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman Tempo dulu(Foto:Ist)



Banyak orang Aceh yang awalnya menolak untuk beribadah di Masjid Baiturrahman yang baru ini karena dibangun oleh orang Belanda, yang awalnya merupakan musuh mereka. Namun sekarang masjid ini telah menjadi kebanggaan masyarakat Banda Aceh.

Pada awalnya, masjid ini hanya memiliki satu kubah dan satu minaret. Kemudian kubah-kubah dan minaret, baru ditambahkan pada tahun 1935, 1958, dan 1982. Hingga saat ini, Masjid Baiturrahman memiliki 7 kubah dan 8 minaret, termasuk yang tertinggi di Banda Aceh.



Masjid ini sempat selamat dari peristiwa gempa bumi dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang hanya mendapatkan sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak. Salah satu minaret 35 meter juga mengalami sedikit keretakan dan menjadi sedikit miring akibat gempa bumi tersebut.


Di saat kejadian bencana alam tersebut, masjid ini digunakan sebagai tempat penampungan sementara untuk orang-orang yang terlantar dan baru dibuka kembali untuk ibadah Salat setelah 2 minggu kemudian.(Adv)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *