![]() |
| Kadisnak Aceh,Zalsufran(Foto:Ist) |
JBNN.Net | Rapat Koordinasi Kesehatan Hewan dan Veteriner bertujuan untuk menyamakan persepsi, bertukar informasi, perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sehingga dapat bersinergi dan terintegrasi, dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan penyakit menular strategis dan kesehatan masyarakat veteriner, serta menyusun strategi pencegahan dan pengendalian secara berkelanjutan dan lebih
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Peternakan Aceh Zalsufran, dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi Kesehatan Hewan dan Veteriner Tahun 2023, di Aula Mata le Resort,Sabang Rabu (21/6/2023)
“Rakor Keswan dan veteriner ini kita laksanakan untuk meningkatkan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, dalam mewujudkan populasi hewan dengan produktivitas yang tinggi, sehingga status kesehatan hewan dapat optimal dan produk Pangan Asal Hewan (PAH) yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik dalam penanganan penyakit hewan dan penjaminan keamanan produk hewan,” ujar Zalsufran.
Zalsufran menambahkan, untuk meningkatkan status kesehatan hewan dan menjamin keamanan pangan hewan, maka Dinas Peternakan Aceh menggelar Rakor ini, sebagai bagian dari upaya evaluasi,Menyamakan persepsi, bertukar informasi encanaan dan pelaksanaan kegiatan, agarmenyamakan persepsi, bertukar informa perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, program kegiatan dapat bersinergi dan terintegrasi dari mulai Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Kadisnak mengungkapkan, saat ini situasi penyakit hewan menular strategis dan zoonosis, seperti brucellosis di Aceh, termasuk dalam kategori Derah Tertular Berat, yaitu di atas 2 persen. Di Pulau Sumatera, hanya Aceh yang belum bebas brucellosis. Sebagai upaya pencegahan, Aceh memulai pembebasan brucellosis dari wilayah kepulauan.
“Alhamdulillah, saat ini kasus wabah PMK sudah menurun. Namun kasus Lumpy Skin Disease atau LSD, masih banyak dilaporkan dibeberapa Kabupaten/Kota. Selain itu, kasus gigitan hewan pembawa rabies atau HPR masih juga sering dilaporkan, terutama di daerah Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues,” ungkap Zalsufran.
karena itu, sambung Zalsufran, melaluiOleh karena itu, sambung Zalsufran, melalui bidang kesehatan hewan dan veteriner, Disnak terus melakukan pembinaan dan pengawasan sesuai dengan perannya terhadap keberadaan Puskeswan, terutama dalam upaya mendorong peningkatan pelayanan secara langsung kepada masyarakat ditingkat kecamatan dan desa.
“Hingga kini, Aceh telah memiliki 108 unit Puskeswan yang tersebar di 23 Kabupaten/Kota, dengan jumlah tenaga medis mencapai 188 orang dan para medis 329 orang. Jika dilihat jangkauan wilayah kerja, populasi ternak dan banyaknya kasus penyakit, maka kita masih kekurangan tenaga dokter hewan dan para medis. Oleh sebab itu, kitabharus bekerja lebih keras dan selalu menjaga kekompakan dalam menyelesaikan setiap tugas pelayanan kesehatan hewan serta pemberantasan nyakit hewan,” imbau Kadisnak.
Dalam sambutannya, Kadisnak Aceh juga menyampaikan beberapa saran dan lesan kepada para peserta. Kepada para kepala dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dan kepala bidang kesehatan hewan dan peternakan pada 23 Kabupaten/Kota, Zalsufran berpesanbagar selalu dapat melaksanakan pelayanan kesehatan hewan secara optimal agar seluruh Kabupaten/Kota di Aceh bebas dari penyakit zoonosis.
Sementara itu, kepada para nakes hewan dan veteriner, Zalsufran berpesan agar selalu mengidentifikasi segala permasalahan dan kendala a yang ada, pada upaya penanggulangan penyakit hewan dan kesmavet, di lapangan dan menyiapkan beberapa alternatif yang bisa dilaksananakan gai upaya penyelesaian
Selain itu, Kadisnak juga mengajaknpara pemangku kebijakan terkait untuk memberikan jaminan keamanan pangan dari penyakit zoonosis dan perlindungan kesehatan masyarakat, dari penyakit zoonosis sehingga dapat meningkatkan produksi ternak.
“Sehubungan dengan masih adanya wabah penyakit hewan zoonosis di Aceh dan kasus hewan pembawa rabies, maka kami mengajak para peserta untuk menyamakan persepsi. Sebagai pemangku kebijakan, kita harus selalu memastikan dan meningkatkan status kesehatan hewan dan menjamin keamanan produk hewan di 23 Kabupaten/Kota,” pungkas Zalsufran.
Pada Rakor kali ini, Disnak Aceh menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Direktorat emavet Kementerian Pertanian, serta mlahbnarasumber lainnya.






