Dampak Kelangkaan Pasir dan Kerikil, Pembangunan Ribuan Rumah Subsidi di Aceh Terancam Terhenti

Ketua REI Aceh, Muhammad Noval(Foto:Ist)

JBNN.Net | Pengusaha kontruksi yang tergabung dalam Real Estate Indonesia (REI) Aceh mulai merasakan dampak dari kelangkaan bahan material pasir dan batu kerikil. Ini tak lepas dari aksi mogok yang dilakukan para sopir truck di wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh dalam kurun waktu beberapa hari ini.

Ketua REI Aceh, Muhammad Noval menyebut para pengembang kesulitan memperoleh pasir dan batu untuk bahan baku bangunan. Kelangkaan itu berpotensi mengancam pembangunan dan proyek pemerintahan.

Bacaan Lainnya

“Pengembang menjerit karena tidak ada pasir dan batu kerikil. Ini sangat berdampak karena sebagai bahan utama kontruksi. Jika kondisi kelangkaan pasir ini terus berlanjut, maka tukang-tukang akan berhenti bekerja dan bukan tidak mungkin ribuan rumah yang kini sedang dibangun terancam terhenti,” sebut Noval bersama Pengurus REI Aceh pada kontrasaceh.net,Sabtu 23 September 2023.

Noval menjelaskan dibawah REI Aceh yang anggotanya mencapai 120 pengembang, saat ini sedang membangun ribuan rumah di Aceh, baik rumah komersil maupun rumah subsidi, khsususnya di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Sehingga, Ia memperkirakan kebutuhan pasir dan batu kerikil mencapai 500 truck dalam satu hari.

“Jumlah tersebut baru pengembang yang tergabung dalam REI Aceh saja, bagaimana dengan pengusaha kontruksi diluar REI Aceh yang mencapai ribuan, mereka juga berdampak dengan kondisi ini. Maka, bukan tidak mungkin, pembangunan proyek pemerintah juga akan terganggu,” ungkap Noval.

Selain itu, menurut Noval pihaknya juga telah berkomitmen untuk menyediakan rumah murah bagi masyarakat dalam rangka mendukung Program Presiden Jokowi penyediaan satu juta rumah murah seluruh Indonesia. Namun, dengan kondisi langkanya pasir dan kerikil dipasaran maka rencana itu juga akan gagal.

Oleh sebab itu, Noval mengharapkan semua pihak agar duduk bersama guna mencari solusi atas permasalahan ini, sehingga perencanaan pembangunan di Aceh yang sedang berjalan akan selesai dengan target yang telah ditentukan.

“Kita tidak mau masuk terlalu dalam atas polemik ini, namun kami menjadi pihak yang sangat dirugikan akibat tidak ada pasir dan kerikil. Oleh karena ini kami mengharapkan semua Stakeholder untuk duduk bersama mencari solusi terbaik agar semua pihak tidak dirugikan,” harap Noval.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *