Mazhab Resmi Saudi Hambali, Kenapa Kerap Dilabel dengan Wahabi? Baca artikel CNN Indonesia “Mazhab Resmi Saudi Hambali, Kenapa Kerap Dilabel dengan Wahabi?”

Foto ilustrasi. Demonstrasi di Banda Aceh menolak paham Wahabi di Indonesia beberapa waktu lalu. (Future Publishing via Getty Imag/Future Publishing)

 

JBNN.Net | Arab Saudi memiliki mazhab resmi yakni Hambali. Namun, mengapa banyak pihak mengira aliran yang berkembang di negara ini adalah Wahabi?

Mahzab merupakan pandangan ulama yang bersumber Al Quran dan hadis. Di Saudi, Islam menjadi aspek inti dari kehidupan sehari-hari. Elemen ini memainkan peran dominan dalam pemerintahan negara dan sistem hukum.


Menurut Cultural Atlas, Saudi memiliki mazhab resmi yakni Hambali.


Mazhab Hambali merupakan salah satu mazhab dalam Islam yang dikemukakan dan dikembangkan Imam Ahmad bin Hambal atau Imam Hambali.


Wujud ajaran Hambali beberapa di antaranya menganggap perempuan yang lebih dari 50 tahun dan mengeluarkan darah dari kelamin itu bukanlah darah haid melainkan penyakit, dan memiliki 14 rukun salat


Sementara itu, wahabi tak lepas dari citra Saudi karena pendiri paham ini, Muhammad bin Abdul Wahhab, berkontribusi dalam membangun ideologi negara kala itu.


Wahabi yakni pemikiran Islam yang berpegang teguh pada purifikasi atau pemulihan Islam ke bentuk asli sesuai teks Alquran dan Hadis.



Dalam ceramahnya, Abdul Wahhab kerap menyampaikan gagasan ‘radikal’ soal reformasi yang konservatif berdasarkan aturan moral yang ketat.
Saudi kemudian melakukan reformasi secara berkala supaya paham itu sejalan dengan perkembangan zaman.

Wahabisme kemudian tertanam di masyarakat Saudi. Di sisi lain, pemerintah juga mengadopsi paham ini sebagai sistem politik dan menganggap pendirian Wahabisme sebagai bagian dari negara, demikian dikutip Global Policy Journal.


Selama ini, Wahabi identik sebagai paham yang tak ramah perempuan. Paham tersebut “merumahkan perempuan” dan menganggap suara mereka sebagai aurat

Terpapar dari Ibnu Taymiyyah

Pandangan dia terpapar dari gagasan Ibn Taymiyyah yang menyerukan pemurnian Islam dan menghindari praktik-praktik yang ia lihat sebagai inovasi, yang ia tafsirkan dari ajaran Imam Hambali.


Di Kota Diriyah, Abdul Wahhab dan salah satu temannya, Muhammad bin Saud, merealisasikan gagasan pemurnian Islam.


Dalam semangat ini, Saud mendirikan Negara Saudi Pertama yang kini menjadi Arab Saudi, di bawah bimbingan Abdul Wahhab, yang dikenal sebagai sheikh.

Wajah Baru di Era Pangeran MbS

Selain itu, perempuan harus tunduk pada laki-laki yang dianggap lebih berkuasa. Namun, Saudi di era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) ingin menampilkan wajah baru sebagai negara yang terbuka atau moderat.

Ia mulai mengeluarkan gebrakan-gebrakan dan membangun proyek sesuai visi 2030

Di sisi lain, penangkapan terhadap aktivis dan ulama di era MbS kerap terjadi. Kerajaan bahkan sempat menangkap ulama yang memiliki kesamaan pandangan dengan wahabi.


Pada pertengahan Oktober lalu, mantan imam Masjidil Haram, Sheikh Saleh Al-Talib, menjadi sorotan karena mendapat hukuman 10 tahun penjara.


Pihak berwenang Saudi menangkap ulama itu gegara ceramah Al-Talib yang menentang kebijakan Kerajaan. Ia menyampaikan ceramah pada 2018 lalu.


Dalam ceramah itu, ia menentang kebijakan Saudi yang mengizinkan percampuran laki-laki dan perempuan di ruang publik. Di kala itu, Kerajaan mengesahkan undang-undang yang mencampur laki-laki dan perempuan dalam ruang publik.


MbS memang dikenal bakal memberangus siapa saja yang menghalangi pemerintahan atau kebijakan yang sudah dibuat.(CnnIndonesia)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *