25 Ribu Orang Meramaikan BACCE 2026, Kopi Jadi Penggerak Ekonomi Kota Banda Aceh

JBNN.net, Banda Aceh | Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, kembali menjadi ruang perjumpaan masyarakat dalam suasana yang berbeda. Aroma kopi, aktivitas pelaku UMKM, kreativitas para barista, hingga ramainya pengunjung mewarnai gelaran Banda Aceh Colossal Coffee Experience (BACCE) 2026 yang resmi ditutup pada Minggu (20/9/2026) malam.

Selama pelaksanaannya, BACCE 2026 tidak sekadar menghadirkan kopi sebagai minuman yang dinikmati masyarakat. Event ini menjadi ruang bagi pelaku usaha kopi, UMKM, pekerja kreatif, influencer, hingga pelaku transportasi untuk mengambil bagian dalam sebuah kegiatan yang menggerakkan banyak sektor.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang ikut membantu mempromosikan BACCE 2026, termasuk melalui berbagai platform media sosial.

Menurut Illiza, promosi yang dilakukan masyarakat membuat informasi mengenai BACCE 2026 dapat menjangkau lebih banyak orang, termasuk mereka yang tidak berkesempatan hadir langsung ke lokasi.

“Terima kasih kepada masyarakat yang sudah mempromosikan kopi kita, UMKM kita dan kegiatan ini sehingga orang-orang yang tidak sempat datang mereka tahu melalui media sosial,” ujar Illiza saat menutup BACCE 2026 di Lapangan Blang Padang, Minggu malam.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan tersebut juga terlihat dari jumlah pengunjung yang terus berdatangan. Hingga Minggu siang, jumlah pengunjung BACCE 2026 disebut telah mencapai sekitar 25 ribu orang.

“Sore tadi saya update jumlah pengunjung sampai siang tadi. Alhamdulillah pengunjung sudah sampai 25 ribu pengunjung,” kata Illiza.

Angka tersebut menjadi salah satu gambaran tingginya minat masyarakat terhadap kegiatan yang menggabungkan budaya minum kopi dengan ruang kreatif, hiburan, promosi produk lokal dan aktivitas UMKM.

Illiza mengapresiasi konsep penyelenggaraan BACCE 2026 yang menurutnya memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Mulai dari penataan lokasi, pilihan tempat duduk, suasana hingga berbagai sajian yang ditampilkan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat selama berada di kawasan kegiatan.

“Tentu kami sangat mengapresiasi dengan tampilan, penyebaran yang disajikan, tempat duduk yang beragam dengan suasana yang beda. Kita tunggu suasana yang lebih menarik ke depannya,” ujarnya.

Bagi Banda Aceh, kopi bukan sekadar komoditas. Kopi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kedai kopi menjadi tempat bertemu, berdiskusi, bekerja, bersantai sekaligus membangun jejaring.

Karena itu, BACCE 2026 hadir bukan hanya untuk memperkenalkan cita rasa kopi, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi berbagai pihak yang berada di belakang ekosistem kopi dan ekonomi kreatif.

Para peserta kopi turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mereka membawa keahlian, kreativitas dan inovasi masing-masing untuk diperkenalkan kepada masyarakat.

Illiza memberikan apresiasi kepada seluruh peserta kopi yang telah berpartisipasi dan menampilkan kemampuan mereka selama BACCE 2026.

Ia berharap pada pelaksanaan berikutnya, kegiatan serupa dapat menghadirkan literasi kopi yang semakin kaya sehingga masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati kopi, tetapi juga mendapatkan pengetahuan mengenai dunia kopi.

“Semoga ke depan bisa tampil dengan literasi yang lebih kaya,” katanya.

Selain pelaku kopi, lebih dari 100 UMKM turut mengambil bagian dalam memeriahkan BACCE 2026. Kehadiran mereka membuat kawasan kegiatan menjadi ruang promosi bagi beragam produk lokal.

Produk makanan, minuman, kerajinan dan berbagai produk kreatif lainnya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan masyarakat.

Di sinilah, kata Illiza, sebuah event tidak hanya berhenti pada panggung dan keramaian. Ada perputaran ekonomi yang ikut bergerak ketika ribuan orang berkumpul dalam satu kegiatan.

Dampaknya dirasakan oleh banyak kelompok masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pengemudi ojek, penyedia jasa transportasi, pekerja, pengamanan, influencer, content creator hingga berbagai sektor pendukung lainnya.

“Bagaimana abang ojek, pelaku usaha transportasi, para UMKM kita, para influencer kita, dan creator, pekerja, pengamanan, semua terlibat di sini. Bayangkan dampak yang diterima dari perputaran ekonomi,” ujar Illiza.

Bagi pemerintah kota, geliat ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa event perlu terus dikembangkan. Kegiatan yang mampu mendatangkan masyarakat dalam jumlah besar dinilai dapat menciptakan efek berantai bagi berbagai sektor usaha.

Illiza mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh berharap kota tersebut dapat terus menghadirkan event-event yang mampu menarik masyarakat sekaligus memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Karena ketika dilaksanakan suatu event akan ada multiplier effect yang terjadi di kota ini,” katanya.

BACCE 2026 pun tidak berhenti sebagai agenda satu kali. Pemerintah Kota Banda Aceh telah mengajukan kegiatan tersebut kepada Kementerian Pariwisata Republik Indonesia agar dapat masuk dalam Kalender Event Nusantara (KEN) 2027.

Langkah tersebut diharapkan dapat membawa BACCE ke panggung yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi Banda Aceh sebagai salah satu kota yang memiliki potensi wisata berbasis kopi, kuliner, UMKM dan ekonomi kreatif.

Jika nantinya masuk dalam KEN 2027, BACCE diharapkan dapat menjadi agenda yang semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat Aceh, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *