Tangis Haru Bang Zack Saat Reses Di Kampung Halaman

JBNN.Net | Anggota DPR Aceh Fraksi Partai Aceh Muhammad Zakiruddin Dapil VII menangis haru ketika mendekap perempuan Lansia diakhir kalimat penutup kegiatan reses Tahap pertama tahun 2025.

Momen tersebut terjadi ketika anggota DPRA komisi VI Muhammad Zakiruddin atau betah dengan panggilan Bang Zack itu mendengar penjelasan tapak tilas dari Khatijah, di Aula Balai Desa Teluk Kemiri, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (2/26).

Bacaan Lainnya

Khatijah menceritakan, dirinya ingat persis saat Bang Zack masih di usia kanak-kanak. Kata Khatijah, Bang Zack adalah sosok yang gemar bertandang dan berlari-larian dengan teman sepantarnya.

Dalam rangkulannya, Khatijah mendoakan agar Bang Zack diberi kemudahan dan kesehatan dalam mengemban amanahnya.

“Ambe tau engko waktu kecik-kecik dulu, lari-lari same kawanmu, Sekarang engko udah jadi ukhang hebat, semoge Allah sihek ke badanmu, dilancarke dalam tugas”, ungkap Khatijah berbicara bahasa Tamiang.

(Saya tahu kamu saat kamu kecil dahulu, kamu bermain kejar-kejaran dengan temanmu, sekarang kamu sudah jadi orang hebat, semoga kamu diberi kesehatan oleh Allah dalam mengemban amanah).

Peristiwa tersebut diselimuti rasa haru, hal itu dapat dibuktikan saat tampak air mata menggenangi setiap sisi kelopak mata Khatijah.

Sore itu, Bang Zack langsung menimpali ucapan Khatijah, “Ambe Cade sanggup ceghite lagi, kale ceghite Ambe teringat oleh juang Ayah Ambe juge kenangan laen,” ulasnya dengan nada terbata-bata.

(saya tidak sanggup cerita lagi, apabila saya cerita, saya kembali teringat oleh perjuangan ayah saya dan kenangan yang pernah ada).

Saat diwawancarai terpisah oleh media JBNN.NET di rumahnya, Khatijah mengatakan bahwa umurnya saat ini menginjak 72 tahun.

“Umur nenek 72, tahun ini,” katanya.

Diumurnya yang tidak lagi muda, tak menyurutkan langkah Khatizah dalam bekerja. Khatijah memanfatkan waktu luangnya menjadi sebagai petugas Marbot di Mesjid Al-Munawwarah di Desa Teluk kemiri dengan upah 350 ribu rupiah per bulannya.

Disamping melakoni pekerjaannya sebagai Marbot, Khatijah juga mencari lidi dari pelepah pohon kelapa sawit untuk nantinya di proses dengan cara diraut sampai halus yang kemudian dijual hingga menghasilkan nilai ekonomi.

“Nenek nyapu-nyapu mesjid, 350 ribu perbulan, nyari lidi sawit juga kalau ada orang manen,” ungkapnya.

Khatijah mengaku, lidi kelapa sawit dijualnya dengan harga 38 ribu rupiah perkilogramnya kepada agen yang datang dari Stabat, Sumatera Utara.

” Ya lumayanlah dapat-dapat sikit, kadang sampai jam 11 malam nenek meraut lidi, ada orang agen datang dari Stabat kadang-kadang harganya 40 ribu sekilo kadang 38 ribu sekilo,” ujarnya.

Kendati masih lancar bicara dan masih jelas mata melihat, gerakan Khatijah saat berjalan tak bisa bohong, ia mengatakan, apabila menjelang tidur malam, sakit pinggang yang dideritanya kerap kambuh, tak jarang nyeri di bagian lutut nya pun kumat.

“Kalau mau tidur sering kumat pinggang dan lutut nenek, mau bangkit untuk shalat, ya Allah sakit betul,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *