JBNN.net | Ketua Umum HMI FKIP USK, Rivaldi, mengecam keras rencana pengadaan mobil dinas Badan Reintegrasi Aceh (BRA) dengan anggaran yang menyentuh angka Rp20 miliar, di saat Aceh masih luluh lantak dihantam bencana dan rakyatnya hidup dalam duka serta ketidakpastian.
Kebijakan ini bukan sekadar keliru, tetapi sebuah tamparan keras bagi nurani publik. Di tengah jeritan korban bencana yang kehilangan rumah, pekerjaan, bahkan keluarga, pemerintah justru sibuk mengurusi kenyamanan elite dengan fasilitas mewah.
Ini bukan soal administrasi anggaranini soal moral dan keberpihakan.
“Ketika rakyat Aceh bertahan hidup dari bantuan seadanya, pejabat justru merancang pengadaan mobil dinas bernilai puluhan miliar. Ini adalah potret telanjang ketidakpekaan pemerintah terhadap penderitaan rakyatnya sendiri,” kata Rivaldi, Sabtu 24/1/2026.
Anggaran sebesar itu, jika dialihkan untuk penanganan bencana, rehabilitasi rumah warga, bantuan ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, akan menyelamatkan ribuan rakyat Aceh dari kesengsaraan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: rakyat disuruh sabar, sementara kekuasaan berpesta di atas penderitaan.
Lebih ironis lagi, kebijakan ini muncul menjelang bulan suci Ramadan, saat kebutuhan masyarakat meningkat dan para korban bencana seharusnya mendapat perhatian ekstra dari pemerintah. Alih-alih menghadirkan empati dan keberpihakan, pemerintah justru memperlihatkan wajah kekuasaan yang dingin dan jauh dari rasa keadilan sosial.
“Jika pengadaan ini tetap dipaksakan, maka jelas pemerintah telah kehilangan rasa malu. Negara gagal hadir di saat rakyat paling membutuhkan. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan amanat keadilan sosial,” lanjutnya.
HMI FKIP USK mendesak Pemerintah Aceh untuk segera mengevaluasi dan membatalkan pengadaan tersebut, serta mengalihkan anggaran secara transparan dan bertanggung jawab untuk kepentingan masyarakat terdampak bencana. Pemerintah seharusnya hadir sebagai pelindung dan penolong rakyat, bukan justru melukai rasa keadilan di tengah duka yang belum kering.





