Kepala BI Aceh: Dampak Inflasi Program MBG Masih Perlu Dikaji

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini,(Foto: Dok Jbnn.net)

JBNN.net |  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah dinilai membawa dampak positif terhadap perekonomian daerah, terutama dalam penciptaan lapangan kerja dan kepastian usaha bagi pelaku produksi dan distribusi.

Namun demikian, dampak kebijakan tersebut terhadap inflasi dan pelaku usaha kecil masih memerlukan kajian yang lebih komprehensif.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan hingga saat ini belum terdapat kajian utuh yang dapat menjelaskan secara menyeluruh pengaruh MBG terhadap inflasi.

“Kalau dari sisi inflasi, kami belum bisa menyampaikan dampaknya secara pasti karena kajian yang utuh memang belum ada,” kata Agus, Rabu 21/01/2026 di Banda Aceh.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa dari sisi perekonomian, MBG telah menunjukkan kontribusi positif.

Pemerintah, kata dia, sudah menyampaikan bahwa program tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, termasuk pada sektor transportasi dan distribusi.

“Transportasi juga tumbuh, kemudian dari sisi produsen ada kepastian permintaan. Itu tentu menjadi nilai tambah dari MBG,” ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran terkait pelaku usaha kecil, khususnya pedagang makanan murah seperti nasi Rp5.000 yang dikhawatirkan terdampak oleh keberadaan MBG, Agus mengakui hal tersebut bukan persoalan yang sederhana.

“Memang ini sulit dijawab. Harus diakui, ada potensi dampak, misalnya di kantin sekolah atau tempat yang sebelumnya menjadi lokasi jajan, ketika anak-anak sudah mendapatkan MBG, kemungkinan belanjanya berkurang,” jelasnya.

Namun Agus berharap dampak tersebut bersifat sementara dan tidak berlangsung dalam jangka panjang. Ia menilai dinamika penyesuaian akan terjadi seiring berjalannya waktu.

“Harapannya dampaknya temporer saja, tidak terlalu lama. Tapi memang ini perlu dikaji lebih dalam,” tambahnya.

Agus juga mengungkapkan bahwa saat ini kajian terkait dampak MBG terhadap perekonomian sedang dilakukan oleh Bank Indonesia di tingkat pusat. Hasil kajian tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan lanjutan.

Terkait perkembangan ekonomi menjelang Ramadan, Agus memprediksi tekanan inflasi akan meningkat sebagaimana pola yang terjadi setiap tahun. Namun ia memastikan BI bersama pemerintah daerah akan berupaya menjaga agar kenaikan harga tetap terkendali.

“Menjelang Ramadan dan Lebaran memang kecenderungannya inflasi naik. Tapi kita pastikan pasokan barang cukup, sehingga kalaupun harga naik, tidak terlalu tinggi,” tegasnya.

Menurut Agus, kunci pengendalian inflasi tetap terletak pada keseimbangan antara pasokan dan permintaan. “Kalau supply terjaga, harga akan cenderung stabil. Itu yang terus kita upayakan,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *