JBNN.net | Sahas Inisiatif bekerja sama dengan UNICEF Perwakilan Aceh dan Dinas Kesehatan Aceh menggandeng para jurnalis untuk memperkuat edukasi publik tentang pencegahan penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B, khususnya dari ibu ke anak.
Kegiatan ini dikemas dalam Sharing Session Konten Edukasi 3L (Lindungi Diri, Lindungi Pasangan, dan Lindungi Anak) yang dipandu oleh Epidemiolog Dinas Kesehatan Aceh, Muhammad Jamil, SKM., M.Kes,. Senin 3 November 2025 di Banda Aceh.
Dalam paparannya, Jamil menekankan pentingnya peran media dalam menyebarluaskan informasi kesehatan yang non-diskriminatif.
Ia mengingatkan bahwa masih banyak stigma dan salah persepsi terhadap orang dengan HIV (ODHIV), yang justru menghambat upaya pencegahan dan pengobatan.
“Stigma dan diskriminasi membuat banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal HIV tidak menular lewat udara, pelukan, atau makan bersama,” ujar Jamil.
Data Dinas Kesehatan Aceh mencatat hingga September 2025, terdapat 2.057 kasus kumulatif HIV/AIDS di Aceh, dengan 53 persen di antaranya berasal dari kelompok lelaki seks lelaki (LsL). Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025 saja, ditemukan 260 kasus baru.
Jamil menjelaskan, 90 persen kasus HIV pada bayi terjadi akibat penularan dari ibu yang terinfeksi saat hamil, melahirkan, atau menyusui. Karena itu, program Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA) 3E — yang mencakup HIV, sifilis, dan hepatitis B — menjadi prioritas pemerintah Aceh.
“Penularan vertikal hepatitis B mencapai 95 persen, jauh lebih tinggi dari HIV. Karena itu skrining ibu hamil menjadi langkah penting untuk melindungi generasi,” jelasnya.
Selain berbicara soal penyakit menular seksual, Jamil juga menyoroti maraknya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang meningkatkan risiko infeksi. Ia mengutip survei BKKBN 2020 yang menunjukkan 2 persen remaja perempuan dan 8 persen remaja laki-laki usia 15–24 tahun telah melakukan hubungan seks pranikah.
Melalui sesi edukasi ini, para jurnalis diajak menjadi mitra strategis dalam mengedukasi masyarakat dengan pendekatan empatik, berbasis data, dan tanpa stigma.
“HIV bisa dicegah. Yang dibutuhkan bukan rasa takut, tapi kesadaran dan kepedulian bersama,” tegas Jamil.





