JBNN.Net | Balai Bahasa Provinsi Aceh terus mendorong pertumbuhan jumlah penulis cerita anak di Aceh, khususnya untuk mereka yang mahir menulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada di Aceh.
Untuk mencapai itu, Balai Bahasa Provinsi Aceh melakukan rekrutmen dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Cerita Anak Dwibahasa tahun 2024.
Hal itu di utarakan Drs Umar Solikhan, M. Hum, Kepala Balai Bahasa Provinsi Aceh, dalam sambutan nya dihadapan 60 peserta yang lolos uji seleksi rekrutmen penulis di Aula Hotel Kryiad Muraya, Banda Aceh, Rabu (23/10/2024).
Dalam giat itu, lanjut Umar nantinya para peserta akan dibantu dan diarahkan oleh narasumber yang ahli di bidangnya, ada Bambang Trimansyah, Penulis dan editor buku Nasional, Penulis Cerita Anak, Deby Haryanti Dewi, Wuri Prihantini dari Perbukuan Nasional, Firman Perlindungan, serta Tika Ardianti, seorang ilustrator Nasional.
Selanjutnya, dalam bimbingan teknis itu “nantinya peserta di ajarkan mengenai penulisan cerita anak dan tahap-tahap penjenjangan cerita anak,” ulas Umar.
Tidak hanya itu, dalam Bimtek yang berlangsung selama empat hari itu (23-26/10/2024), “peserta juga diberikan pelatihan membuat papan cerita, menerjemahkan dan menyunting cerita anak, serta meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia,” Lanjutnya.
Kemudian, para peserta diharapkan untuk mampu menelurkan karya berupa cerita anak tentang kearifan lokal Aceh menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia, berupa cerita makanan, hewan endemik, tumbuhan endemik, tempat wisata khas, dan hal-hal unik lainnya.
“Gunakanlah kesempatan Bimtek ini untuk meningkatkan pengetahuan, pengalaman, dan menghasilkan karya yang berkualitas,” tambah Umar Solikhan.
Bambang Trimansyah, narasumber hari pertama , mengungkapkan bahwa buku anak saat ini kurang menarik sehingga anak-anak tidak tertarik membacanya.
“Hal ini disebabkan oleh kurangnya kompetensi penulis dan kurangnya keseriusan serta kualitas penulis yang rendah,” kata Bambang.
Bambang menambahkan, kurangnya peran pembinaan dan pelatihan oleh Pemerintah bagi penulis seringkali menjadi penyebab utama.
Padahal menurutnya, penulis buku anak harus menulis cerita sesuai dengan jenjang yang ditentukan dan memenuhi syarat.
“Agar buku anak bisa diterbitkan, penulis perlu mendapat pelatihan teknis dan bimbingan terlebih dahulu, serta menulis dengan tema yang menarik dan unik. Kemudian, naskah akan disunting sendiri dan dipilih dengan teliti untuk kurasi,” kata nya.
Selanjutnya, Bimtek pada hari ketiga pelatihan penulisan buku cerita anak masih berlangsung, tampak dari raut wajah peserta masih menunjukkan antusiasme yang tinggi.
Sadri, peserta dari Kabupaten Aceh Singkil menyatakan dirinya sangat senang bisa bertemu dengan narasumber yang hebat dan luar biasa dalam menyajikan materi, hal itupun membuatnya makin semangat untuk menulis.
“Materi yang disampaikan oleh narasumber berhasil menginspirasi saya untuk mengembangkan keterampilan menulis yang sudah mulai pudar,” ungkap nya.





