Aceh Tingkatkan Kewaspadaan Triple Eliminasi: Cegah Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak

Muhammad Jamil, SKM., M.Kes(Foto:Dok Ist)

JBNN.net | Dinas Kesehatan Aceh mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan jurnalis, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan peningkatan kewaspadaan terhadap penularan tiga penyakit menular berbahaya — HIV, sifilis, dan hepatitis B — dari ibu ke anak. Upaya ini dikenal dengan istilah Triple Eliminasi (3E).

Epidemiolog Dinas Kesehatan Aceh, Muhammad Jamil, SKM., M.Kes, menjelaskan bahwa ketiga penyakit tersebut memiliki pola penularan yang sama, yakni melalui hubungan seksual tidak aman, kontak darah, serta dari ibu ke janin saat hamil, melahirkan, maupun menyusui.

“Penularan vertikal menjadi ancaman serius. Sekitar 90 persen infeksi HIV pada bayi berasal dari ibu yang sudah terinfeksi,” ujar Jamil dalam kegiatan Sharing Session Konten Edukasi 3E bersama Jurnalis di Banda Aceh,Senin 3 November 2025.

Menurutnya, risiko penularan sangat tinggi bila tidak dilakukan pencegahan. “Hepatitis B bisa menular hingga 95 persen, sifilis mencapai 67–90 persen, dan HIV sekitar 45 persen dari ibu ke anak,” katanya. Karena itu, deteksi dini dan edukasi publik menjadi langkah penting dalam strategi eliminasi tiga penyakit ini.

Data Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan, hingga September 2025, terdapat 2.057 kasus HIV-AIDS kumulatif, dengan 53 persen di antaranya berasal dari kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL).

Kasus baru selama Januari–September 2025 mencapai 260 orang. “Angka ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan dan edukasi berkelanjutan,” tambah Jamil.

Dalam paparannya, Jamil juga menyoroti pentingnya peran media dalam menyebarkan informasi yang edukatif dan non-diskriminatif. Stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi tantangan besar dalam upaya penanggulangan penyakit ini.

“No stigma, no discrimination. Jurnalis harus membantu masyarakat memahami bahwa HIV bukan kutukan atau aib, tapi kondisi medis yang bisa dikendalikan dengan pengobatan ARV,” tegasnya.

Selain menekankan kewaspadaan bagi tenaga kesehatan dan ibu hamil, Jamil juga mengingatkan kalangan remaja agar menjauhi perilaku berisiko. Ia mengajak remaja untuk fokus mengejar cita-cita, menghindari seks bebas, serta tidak mudah terpengaruh fenomena “sugar daddy”. “Remaja Aceh harus sadar nilai dirinya dan menjaga masa depan dari ancaman HIV dan IMS,” pesannya.

Program Triple Eliminasi menjadi komitmen global yang juga diterapkan di Aceh untuk memastikan generasi bebas HIV, sifilis, dan hepatitis B. Upaya ini dilakukan melalui skrining ibu hamil, pengobatan ARV, imunisasi hepatitis B, dan kampanye edukasi lintas sektor.

“HIV hilangkanlah berisiko, periksalah bila positif, berobatlah dan disiplinlah. Deteksi dini tingkatkanlah, semua populasi jangkau dan eliminasilah HIV-AIDS,” pungkas Jamil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *