JBNN.net, Banda Aceh | Kabar baik untuk Aceh! Mesin Insinerator Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di TPA Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, akhirnya resmi beroperasi.
Fasilitas yang digadang-gadang menjadi solusi pengolahan limbah medis di Aceh itu diharapkan mampu menghentikan ketergantungan pengiriman limbah ke luar daerah dan membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga puluhan miliar rupiah per tahun.
Direktur PT. Garda Lestari Ekologi Hutama (GLEH) T. EMI Syamsyumi atau yang akrab disapa Abu Salam menyampaikan, perjuangan menghadirkan fasilitas pengolahan limbah B3 di Aceh bukan perkara mudah.
Bahkan, menurutnya, gagasan tersebut telah dirintis sejak dirinya diminta pulang dari Australia oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf untuk ikut membangun Aceh.
“Beliau ingin membawa Aceh maju dari segala segi. Saya dipanggil pulang dari Australia untuk ikut memikirkan bagaimana Aceh bisa berkembang,” ujar Abu Salam Saat peresmian Operasional mesin B3, Kamis 7 Mei 2026 di Banda Aceh.
Ia mengaku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan fasilitas tersebut. Namun baginya, perjuangan itu terbayar ketika mesin insinerator akhirnya resmi beroperasi.
“Alhamdulillah, walaupun beliau sudah tidak ada di sini, apa yang beliau amanahkan sudah bisa kami wujudkan,” katanya.
Menurut Abu Salam, keberadaan B3 ini bukan terkait persoalan bisnis pengolahan limbah, tetapi juga bentuk upaya mempertahankan potensi ekonomi Aceh agar tidak terus keluar daerah.
Selama ini, kata dia, potensi pengelolaan limbah B3 Aceh bisa mencapai Rp50 hingga Rp70 miliar per tahun. Namun nilai ekonomi tersebut selama ini dinikmati daerah lain karena limbah harus dikirim ke luar Aceh.
“Hari ini kita sama-sama membangun agar PAD Aceh meningkat. Selama ini Aceh tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.
Mesin B3 ini yang mulai beroperasi itu saat ini memiliki kapasitas pengolahan sekitar enam ton limbah per hari. Sementara estimasi limbah medis di Aceh disebut mencapai 11 hingga 15 ton per hari.
Meski begitu, Abu Salam optimistis kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan seiring bertambahnya dukungan berbagai pihak.
Ia juga memaparkan kesadaran terhadap pengelolaan limbah berbahaya, termasuk limbah medis dan plastik yang selama ini dianggap sepele.
“Hari ini kita ingin Aceh lebih bersih ke depan. Bukan hanya menciptakan pendapatan daerah, tapi juga menjaga lingkungan,” katanya.
Di balik berdirinya fasilitas tersebut, Abu Salam menyebut banyak pihak yang ikut membantu sejak awal. Salah satunya PT Karya Teknik Mulia (KTM) yang menjadi transporter pertama dalam kerja sama pengangkutan limbah medis di Aceh.
Selain mendukung pengelolaan limbah yang lebih aman, kerja sama tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja baru di Aceh.
Abu Salam, berharap semakin banyak industri strategis dapat tumbuh di Aceh tanpa harus bergantung pada daerah lain.
“Apapun yang bisa dibuat di Aceh, Insya Allah akan kita buat di Aceh,” katanya
Sementara itu, Asisten Direktur PT Karya Teknik Mulia(KTM), Riska Anindita, mengatakan KTM menyambut baik bisa menjadi bagian dari pengoperasian fasilitas pengolahan limbah B3 pertama di Aceh.
“Pihaknya ingin memastikan pengolahan limbah medis dilakukan secara aman, profesional, dan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.
Menurutnya, kerjasama ini diharapkan mampu menjadi solusi pengelolaan limbah medis berbasis wilayah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 18 Tahun 2020.





