Poliklinik RSUD Aceh Besar hari ini tutup, Seluruh dokter spesialis tidak memberikan pelayanan

JBNN.net, Aceh Besar |  Pelayanan poliklinik di RSUD Aceh Besar hari ini dilaporkan tutup total akibat aksi mogok massal yang dilakukan oleh seluruh tenaga medis, termasuk dokter spesialis.

Penutupan ini menyebabkan poliklinik tidak menerima pasien sama sekali, sehingga masyarakat yang datang untuk berobat harus kembali pulang tanpa mendapatkan layanan kesehatan.

Penutupan layanan ini dipicu oleh kosongnya persediaan sebagian besar obat-obatan di rumah sakit, yang dinilai telah mengganggu proses pelayanan medis secara signifikan.

Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan tidak dapat menjalankan tugasnya secara optimal, sehingga aksi mogok dianggap sebagai langkah terakhir untuk menyuarakan persoalan yang terjadi. Kekosongan persediaan obat-obatan sudah berlangsung selama kurang lebih 5 bulan.

Meski demikian, layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap beroperasi seperti biasa.

Hal ini dilakukan karena sifat pelayanan IGD yang darurat dan menyangkut keselamatan nyawa pasien, sehingga tidak dapat dihentikan dalam kondisi apa pun.

Selain persoalan kekosongan obat, aksi mogok juga dipicu oleh sejumlah masalah lain, seperti  belum dibayarkannya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) sejak bulan Januari tahun 2025 sampai sekarang. Serta jasa medis sejak November 2025 yang mengalami keterlambatan pencairan.

Tenaga medis juga menyoroti jumlah kunjungan pasien yang semakin menurun yang berimbas kepada klaim RS yang menurun.

Salah seorang perwakilan dokter spesialis, dr. Irfan, Sp.P menyampaikan bahwa persoalan ini telah berlangsung cukup lama tanpa penyelesaian yang jelas.

Ia menjelaskan bahwa keterlambatan pembayaran TPP dan Jasmed, serta kekosongan obat-obatan, disebabkan oleh tidak tersedianya anggaran yang memadai di rumah sakit.

Lebih lanjut, ia menduga bahwa kondisi ini berkaitan dengan lambatnya realisasi status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang telah ditetapkan sejak 2024, namun hingga kini belum berjalan sebagaimana mestinya.

Hal tersebut berdampak luas terhadap sistem administrasi, pengelolaan keuangan, serta pelayanan medis di RSUD Aceh Besar.

Akibat aksi mogok ini, sedikitnya 13 poliklinik ditutup, yang menyebabkan ratusan pasien tidak mendapatkan pelayanan.

Para tenaga medis menyampaikan tuntutan, yakni tidak memberikan pelayanan rawat jalan hingga waktu yang tidak ditentukan (sampai semua permintaan dipenuhi), serta meminta audiensi dengan pihak Pemerintah Daerah dan DPRK untuk membahas pengadaan obat-obatan yang saat ini mengalami kekosongan, percepatan status aktif BLUD, penyelesaian masalah TPP, dan pencairan jasa medis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *