JBNN.net | Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Minggu (22/3) mengklaim telah melancarkan serangan terbaru yang menyasar sejumlah wilayah, termasuk Israel, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA). Serangan tersebut dilaporkan memicu dampak luas dengan jumlah korban mencapai lebih dari 200 orang
Al Jazeera memberitakan bahwa IRGC menyebut serangan ke Israel mengincar instalasi militer dan pusat keamanan di Arad, Dimona, Eliat, Beersheba dan Kiryat Gat.
Selain itu serangan juga ditujukan untuk pangkalan Ali Al Salem di Kuwait dan pangkalan Al Minhad dan Al Dhafra di UEA.
Menurut penjelasan The Times of Israel lebih dari 100 orang mengalami luka karena serangan rudal Iran tetapi belum ada korban tewas.
Militer Israel mengatakan sistem pertahanan udara aktif saat serangan tetapi gagal mencegat rudal Iran.
Israel kini menutup sekolah dan melarang pertemuan lebih dari 50 orang hingga Selasa. Israel juga mengatakan melakukan serangan ke infrastruktur pemerintah Iran di Teheran setelah serangan itu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kejadian ini “Malam yang sangat sulit dalam kampanye untuk masa depan kita.”
Perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran telah mencakup wilayah keamanan di Timur Tengah. Berbagai negara di kawasan yang memiliki fasilitas AS dan Israel telah menjadi target Iran.
Arab Saudi sudah menetapkan persona non grata untuk jabatan militer dan staf kedutaan Iran. Mereka diberi waktu 24 jam untuk meninggalkan wilayah kerajaan.
Sebelumnya Qatar juga sudah melakukan hal yang sama.
Presiden AS Donald Trump telah mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 24 jam. Dia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran bila hal itu tidak dilakukan.




