JBNN.net | Petani Nilam tampaknya mulai risau soal membudidayakan tanaman penghasil minyak atsiri, faktor harga jual yang mulai menurun, membuat para petani perlu berfikir ulang mengembangkan tumbuhan yang telah melegenda di Provinsi Aceh itu. 27/08/2025.
Harga jual minyak Nilam di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sudah tidak stabil, hal itu di sampaikan oleh Haji Heri salah seorang pengumpul minyak di Kecamatan Blangpidie, menurutnya, penyebab harga minyak nilam menurun diakibatkan oleh melonjaknya ketersediaan bahan tersebut saat ini.
”minyak yang kita tampung hari ini dengan harga berbeda-beda, tergantung kualitasnya, mulai dari Rp.500.000 / kg, hingga Rp.600.000; kemungkinan kedepan bisa menurunkan lagi” ucapnya
Sebelumnya, pada bulan Februari hingga akhir mei 2025, berdasarkan pantauan awak media, harga jual minyak Nilam masih bertahan di atas satu juta rupiah per kilogram, sedangkan dari bulan juni hingga Agustus, minyak Nilam justru semakin merosot.
Haji Heri menyebut, sejauh ini belum ada informasi bahwa harga Nilam akan kembali melonjak seperti akhir tahun 2024 lalu, dimana saat itu harga jual mencapai 2 juta rupiah perkilogram.
”sekarang, bahkan para pengumpul pun tidak berani membeli di atas harga pasar, karena, soal itu tidak bisa ditebak” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang petani Nilam di Kecamatan Jeumpa Bukhari, kepada Jbnn.net menyebut, ia justru melakukan pergantian tanaman dari Nilam ke komoditi lain atau banting stir, hal itu dilakukannya sebagai upaya menghindari ancaman kerugian suatu waktu akibat nilai pasar minyak Atsiri tidak lagi sebanding dengan tahun sebelumnya.
”kami saat ini terpaksa harus menanam komoditi lain, ketakutan kita hanya satu, jangan sampai Nilam kehilangan harga, bisa berakibat kerugian bagi petani” ucapnya
Disamping itu, Said Muhajir salah seorang petani Nilam Desa Ladang Neubok Kecamatan Jeumpa, tidak mempersoalkan harga jual Minyak Nilam, menurutnya, penurunan harga tidak begitu mempengaruhi niatnya mengembangkan tanaman ini, bagi Said, menanam tumbuhan penghasil minyak tersebut sangat mudah, seperti tumpang sari dengan tanaman lain.
”meskipun harga tidak lagi seperti dulu, kami tetap mengembangkannya, Nilam termasuk tanaman yang mudah dibudidaya, bisa tumbuh di bawah pohon lainnya, soal harga itu urusan belakangan” tegasnya.
Harga Jual Minyak Atsiri di Abdya Menurun, Petani Nilam: Antara Bertahan dan Banting Stir





