JBNN.net | Suasana berbeda terlihat di lingkungan Dayah Mini Aceh, Tibang, pada Jumat siang. Santriwan dan santriwati tampak bersemangat mengikuti praktik pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Dengan didampingi Tim Pengabdian bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Syiah Kuala (USK), para santri belajar langsung bagaimana limbah dapur dan dedaunan bisa diolah menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanah.
Kegiatan bertema Pengolahan sampah organik menjadi kompos ini merupakan salah satu bagian dari Skema Pengabdian yang berjudul Model Pengelolaan Sampah Berbasis 5-R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace, dan Replant) untuk Mewujudkan Lingkungan Dayah yang Bersih dan Berkelanjutan. Kegiatan ini digagas sebagai bagian dari program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) USK yang selaras dengan kebijakan Dikti Saintek Berdampak.
Tujuannya bukan hanya memberikan edukasi praktis tentang pengelolaan limbah, tetapi juga menumbuhkan budaya ramah lingkungan di pesantren sebagai basis pendidikan generasi muda.
Antusiasme Santri Belajar dari Sampah
Sejak kegiatan dimulai, antusiasme para santri terlihat jelas. Mereka mengikuti setiap tahapan dengan penuh perhatian.
“Biasanya kami hanya membuang sampah ke tong sampah lalu membakarnya” ujar salah satu santriwati sambil tersenyum.
Tim Pengabdian USK bersama mahasiswa KKN turut aktif mendampingi. Mereka tidak hanya membantu dalam praktik, tetapi juga memberikan motivasi agar kebiasaan ramah lingkungan ini dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para santri. Keterlibatan mahasiswa KKN dalam kegiatan ini juga menjadi nilai tambah penting.
Mereka berperan sebagai fasilitator muda yang menjembatani transfer ilmu dari kampus ke masyarakat. Dengan energi dan kreativitas mereka, mahasiswa KKN membantu memperjelas praktik, mendampingi santri satu per satu, serta mendokumentasikan proses agar bisa dijadikan contoh berkelanjutan.
Proses Pengomposan yang Sederhana dan Edukatif
Dalam sesi praktik, para santri belajar bahwa pengomposan bisa dilakukan dengan cara sederhana. Bahan organik ditumpuk secara berlapis, dimulai dari yang kasar di bagian bawah hingga yang halus di bagian atas. Setiap lapisan kemudian disiram larutan dekomposer dan ditaburi kapur dolomit untuk menjaga kualitas proses fermentasi.

Tumpukan tersebut ditutup rapat agar kelembapan terjaga, lalu nantinya setiap dua minggu akan dibalik untuk memberi pasokan oksigen. Setelah beberapa minggu, kompos akan matang ditandai dengan warna coklat tua, tekstur yang gembur, serta aroma tanah segar yang menandakan bahan organik sudah terurai sempurna.
“Prosesnya sederhana, bisa dilakukan siapa saja, bahkan dengan menggunakan wadah bekas seperti ember cat atau karung beras,” jelas Zainnudin, salah satu pendamping kegiatan. “Yang terpenting adalah konsistensi membalik tumpukan agar proses penguraian berjalan cepat.”
Dra. Erlidawati, M.Si, salah seorang anggota pengabdi menyatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada proses membuat kompos. Lebih jauh, para santri juga akan diperkenalkan dengan penerapan prinsip 5R dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan prinsip 5R ini, para santri diharapkan tidak hanya menjadi pelaku pengelolaan sampah, tetapi juga agen perubahan yang mampu menularkan kebiasaan baik ke masyarakat sekitarnya” ujarnya.
Manfaat Nyata: Hemat, Sehat, dan Berkelanjutan
Penerapan prinsip 5R dalam pembuatan kompos memberi manfaat ganda. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, hasil pengomposan juga bisa digunakan untuk menggantikan pupuk kimia. Hal ini tentu mendukung pertanian yang lebih sehat, hemat biaya, sekaligus ramah lingkungan.
Kompos yang dihasilkan santri nantinya akan digunakan untuk menyuburkan tanaman di kebun mini dan lahan pertanian kecil di lingkungan Dayah.
Menariknya, potensi kompos yang dihasilkan tidak hanya terbatas untuk kebutuhan internal Dayah. Dengan jumlah bahan organik yang melimpah dari dapur pesantren dan lingkungan sekitar, kompos yang dihasilkan berpeluang menjadi produk bernilai ekonomi.
Jika dikelola secara berkelanjutan, Dayah dapat menjadikan produksi kompos sebagai unit usaha mandiri yang tidak hanya menopang kebutuhan kebun pesantren, tetapi juga membuka peluang pemasaran ke masyarakat sekitar. Hal ini sekaligus mendorong kemandirian ekonomi Dayah dan memberi pengalaman kewirausahaan bagi para santri.
Dukungan Universitas dan SDGs
Ketua Tim Pengabdi, Ratu Fazlia Inda Rahmayani, S.Pd., M.Sc., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kontribusi Universitas Syiah Kuala dalam mendukung visi Dikti Saintek Berdampak.
Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi tidak hanya sebatas menghasilkan penelitian, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Santri adalah generasi penerus yang tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga perlu dibekali dengan pengetahuan praktis tentang lingkungan. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai bahwa menjaga kebersihan dan mengelola sampah adalah bagian dari ibadah sekaligus tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa program ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama poin SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan).
“Kami optimis, langkah kecil seperti pengelolaan sampah berbasis 5R ini bisa memberi dampak besar. Tidak hanya membuat lingkungan Dayah lebih hijau, tetapi juga membuka potensi ekonomi baru yang bermanfaat bagi kemandirian pesantren dan masyarakat sekitar,” tuturnya.






