JBNN.net|Suasana Ruang Rapat Pulau Naira, Gedung Bina Graha Lantai 2, Komplek Istana Kepresidenan Republik Indonesia terasa hangat siang itu.
Delegasi Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) hadir menyampaikan aspirasi dan program strategis langsung ke jajaran Kantor Staf Presiden (KSP), dalam pertemuan resmi yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.00 WIB. Kamis (07/08/2025).

Pertemuan yang sedianya akan diterima oleh Plt. Deputi II KSP Bidang Perekonomian dan Pangan, Edy Priyono, ini akhirnya diwakili oleh Dr. Sukriansyah S. Latief, SH, MH, Tenaga Ahli Utama Kedeputian II.
Sosok yang tak asing dalam kebijakan infrastruktur dan pangan ini, diketahui pernah menjadi Staf Khusus Wakil Presiden Ma’ruf Amin serta mantan staf khusus Menteri Pertanian era pertama Andi Amran Sulaiman.
Pertemuan dimulai dengan sesi pengenalan. Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, memperkenalkan jajaran pengurusnya, antara lain Sekjen Didi M. Rosidi, Waketum Hilman Ismail Metareum, serta Ketua Green Z Milenial STII Ahmad Syarief Amrullah.
Hadir pula pengusaha pertanian asal Makassar dan Ketua PW STII Jawa Tengah, Saparudin.
Dalam pemaparannya, Fathurrahman membawa hadirin menyelami sejarah panjang organisasi ini.
Didirikan pada 26 Oktober 1946 di Yogyakarta, STII telah menorehkan jejak perjuangan agraria sejak era awal kemerdekaan.
Tokoh-tokohnya seperti Mohammad Sarjan (mantan Menteri Pertanian RI) dan Mayor KH Sholeh Iskandar, eks Komandan Batalyon Hizbullah serta pendiri Legiun Veteran RI, diusulkan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas dedikasinya memperjuangkan hak rakyat tani dan kemerdekaan.
Namun, pertemuan ini tak sekadar mengenang sejarah. Fokus utama adalah masa depan.
Fathurrahman menyampaikan program unggulan STII, mulai dari Reforma Agraria sebagai mitra strategis Kementerian ATR/BPN, hingga pengembangan teknologi pertanian, urban farming, produk UMKM, perikanan, dan peternakan.
Salah satu sorotan penting adalah kerja sama STII dengan Kementerian Pertanian Malaysia terkait pengembangan Benih Trisakti Tani yang ditargetkan menembus pasar internasional.
Tak ketinggalan, Fathurrahman juga memaparkan keberadaan BUMS (Badan Usaha Milik STII) dan koperasi tani binaan mereka.
Di sini, Hilman Ismail Metareum sebagai Waketum STII, menjelaskan lebih lanjut sinergi program antara koperasi STII dengan arah kebijakan Koperasi Merah Putih, sebuah model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas petani.
Namun, suara paling menggugah datang dari Saparudin Putut, Ketua STII Jawa Tengah seorang petani kopi dan sudah ekspor kopi ke Rusia dan negara eropa lainnya.
Ia menyuarakan jeritan para petani kecil yang kerap menjadi korban eksploitasi dalam skema kerja sama investasi.
“Seringkali yang diuntungkan adalah investor, bukan petani. Kami hanya jadi objek penderita, sementara sistem belum berpihak sepenuhnya kepada yang lemah,” ujarnya penuh emosi.
Untuk itu, Saparudin mendorong agar pemerintah serius mengimplementasikan Sistem Resi Gudang.
Menurutnya, sistem ini bisa menjadi “penolong” petani untuk mendapat akses pembiayaan pasca-panen tanpa harus menjual produk dengan harga murah.
Dr. Sukriansyah merespons positif seluruh paparan. Ia menyatakan bahwa KSP, khususnya di bawah Kedeputian II, siap memberi dukungan konkret bagi program-program STII.
Mulai dari fasilitasi sinergi lintas kementerian hingga advokasi kebijakan, terutama dalam upaya mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan yang menjadi bagian penting dari Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran.
“Kami mengapresiasi STII sebagai salah satu kekuatan sipil yang mengakar dari bawah. Ini adalah mitra strategis dalam membangun ekosistem pangan yang inklusif, berdaulat, dan berkeadilan,” tegasnya.
Pertemuan ditutup dengan semangat kolaboratif dan komitmen tindak lanjut konkret antara KSP dan PB STII.
Di tengah tantangan besar sektor pangan, pertemuan ini menjadi penanda bahwa suara petani masih punya ruang di istana.
Kini tinggal bagaimana program-program ini dijalankan dengan integritas, keberpihakan, dan kesungguhan.





