JBNN.Net | Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, Kesedihan mendalam tak terbendung di wajah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem.
Air matanya jatuh saat memimpin doa bersama untuk mendiang Sekjen Partai Aceh, Kamaruddin Abubakar alias Abu Razak, yang berpulang di Mekkah, Rabu (19/3/2025) pukul 06.00 waktu Arab Saudi.
Suasana haru menyelimuti Gedung Paripurna DPRK Aceh Timur siang itu.
Sebelum menyampaikan sambutannya dalam pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Timur, Mualem terlebih dahulu menyampaikan kabar duka kepada hadirin. Suaranya bergetar.
“Sebelum saya beri kata sambutan, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan kabar duka bahwa Sekjen kita, kawan seperjuangan, telah meninggal dunia di Arab Saudi. Mari sama-sama kita menghadiahkan Ummul Qur’an kepada beliau,” ucap Mualem dengan mata berkaca-kaca.
Isak tangis terdengar dari barisan tamu undangan. Para mantan kombatan GAM, kader Partai Aceh, serta pejabat yang hadir menundukkan kepala, larut dalam doa yang dipimpin langsung oleh Mualem.
“Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Mualem dengan suara lirih.
Abu Razak meninggal dunia saat tengah menjalani ibadah umrah di Mekkah. Sejak 3 Maret lalu, ia menjalani ibadah yang direncanakan berlangsung hingga 3 April.
Namun takdir berkata lain. Allah memanggilnya lebih cepat di Tanah Suci.
Jenazah almarhum akan disalatkan di Masjidil Haram pada Kamis (20/3/2025) setelah salat Subuh. Sebuah kehormatan yang jarang dimiliki.
Bendahara Umum Laskar Panglima Nanggroe, Tgk H Muhammad Jaffar yang turut menemani prosesi pemakaman Abu Razak di Makkah, menyampaikan doa yang mengiringi kepergian Abu Razak.
“Semoga Abu Razak rahimahullah dilapangkan kuburnya, diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala dosa-dosanya, dan kembali kepada Allah SWT dengan hati yang selamat. InsyaAllah, amiin Allahumma amiin,” ucapnya.
Kepergian Abu Razak bukan hanya duka bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh rakyat Aceh, terutama para sahabat seperjuangannya.
Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Luwa Nanggroe, T Emi Syamsyumi alias Abu Salam, menggambarkan Abu Razak sebagai sosok yang sangat peduli terhadap masa depan Aceh.
“Beliau adalah pemimpin sejak masa perjuangan hingga hari ini. Seorang yang bertanggung jawab dan tulus. Abu Razak bukan hanya panglima perang, tetapi juga arsitek damai Aceh,” kata Abu Salam.
Sebelum Aceh damai, Abu Razak menjabat sebagai Panglima Komando Operasi GAM (Pangkoops Pusat).
Ia merupakan alumni Kamp Militer Tazura, Tripoli, Libya, angkatan 1987-1988, tempat di mana ia dididik langsung oleh Wali Neugara Aceh, Tgk Chik Di Tiro Hasan Bin Muhammad.
Muzakir Manaf, sahabat seperjuangannya yang kini menjabat Gubernur Aceh, tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Kita kehilangan seorang sahabat setia, pejuang sejati. Abu Razak adalah bagian dari perjalanan panjang Aceh. Beliau berjuang dengan senjata, kemudian berjuang dengan politik, dan kini telah pergi menghadap Sang Khalik,” kata Mualem dalam pidatonya.
Sebagai Sekjen Partai Aceh dan Ketua KONI Aceh, Abu Razak meninggalkan jejak panjang dalam pembangunan Aceh.
Ia adalah salah satu arsitek politik Aceh pasca-damai, sekaligus sosok yang mendorong kebangkitan olahraga di Tanah Rencong.
Kini, Aceh berduka. Tetapi, warisan perjuangan Abu Razak akan tetap hidup di hati rakyat Aceh.
Selamat jalan, Abu Razak. Perjuanganmu abadi dalam sejarah Aceh.






