JBNN.net | Inflasi Provinsi Aceh hingga Januari 2026 tercatat sebesar 6,69 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan tersebut dipicu dampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025 yang memutus jalur distribusi dan mengganggu produksi sejumlah komoditas strategis.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan selain secara tahunan, inflasi Aceh pada Januari 2026 juga mengalami kenaikan secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 3,55 persen.
“Tekanan inflasi terutama terjadi akibat terganggunya distribusi dan produksi pasca bencana hidrometeorologi. Hal ini berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas utama,” kata Agus,Kamis 26 Februari 2026 di Banda Aceh.
Ia menjelaskan, sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi secara tahunan antara lain tarif listrik sebesar 1,59 persen, emas perhiasan 0,95 persen, beras 0,85 persen, nasi dengan lauk 0,43 persen, serta sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,25 persen.
Secara spasial, inflasi tertinggi tercatat di Aceh Tengah sebesar 8,60 persen, disusul Aceh Tamiang 7,59 persen, Lhokseumawe 6,06 persen, Banda Aceh 5,73 persen, dan Meulaboh 5,55 persen.
Meski demikian, Agus menyebut kondisi mulai menunjukkan perbaikan seiring pulihnya jalur distribusi dan normalisasi pasokan. Perbaikan tersebut mulai mendorong penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan dan energi di lima kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Aceh.
“Dengan membaiknya distribusi dan pasokan, kami berharap tekanan inflasi dapat lebih terkendali ke depan,” ujarnya.





