Pilkada Goda Kaum Muda

Foto : Arbi Riyansyah(Dok Jbnn.net)

Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, akan menggelar pesta demokrasi pada tahun 2024. Pemilihan umum ini akan menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia untuk menentukan arah dan masa depan daerahnya. Dalam konteks ini, peran pemuda menjadi sangat penting.

 

Bacaan Lainnya

Menurut data tahun 2024 didominasi oleh pemilih usia 17-40 tahun dengan jumlah pemilih generasi muda sebanyak 107 juta orang atau 53-55 persen dari total pemilih. Pada Pemilu 2024, jumlah pemilih milenial dan generasi Z diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 60 persen dari total suara pemilih.

Ini menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam proses pemilihan kepala daerah untuk pembangunan dan perkembangan daerah. Secara kuantitas jumlah pemuda tentu menjadi pertimbangan untuk dilirik sebagai pemilih para calon kepala daerah. Namun jika ditinjau dari segi kualitas

Besaran angka pemilih muda sudah selayaknya tidak dirangkul berdasarkan kuantitasnya. Sudah saatnya pemuda tidak hanya berperan sebatas sebagai Partisipan Pasif, mereka juga dapat berperan sebagai pelaku dan pengawas pembangunan dan perkembangan daerah.

Pemuda dapat turut serta dalam pilkada, memilih calon pemimpin yang dianggap mampu menjadi sosok yang tepat untuk berdiri mewakili suaranya.

Sebagai pelaku dan pengawas kontestasi di daerahnya, pemuda dapat turut andil dalam proses pemilihan hingga terbentuknya kebijakan oleh pemerintah daerah.

Sehingga perlu disadari untuk dapat berperan secara optimal dalam demokrasi, pemuda perlu dibekali dengan pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang demokrasi. Oleh karena itu, perlu adanya forum atau wadah yang dapat memberikan pemahaman secara kredibel serta aktual.

Karena jika kita merujuk pada pola perilaku kaum muda yang sangat erat dengan media baru berupa konten sosial media yang berisi informasi cepat dan acapkali tidak memiliki isi yang cukup kredibel.

Karateristik sosial media yang berupa terpaan informasi cepat kurang mendalam dan tidak jelas sumbernya karena bisa disebarkan siapa saja tanpa ada filter. Biasanya mempengaruhi pendangkalan pengetahuan politik, karena hanya menampilkan gimik dengan hook untuk menarik insight akun sosial media semata.

Bisa jadi konten yang di konsumsi menjadi bias, hoax, fitnah, dan ujaran kebencian dapat mempengaruhi cara pikir kaum muda. Jika diibaratkan pesan terus menerus disuntikan seperti teori jarum hipodermik menjadikan kaum muda rentan akan penyesatan informasi.

Untuk itu para kontestan yang bertarung pada pilkada serentak 2024 dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan perilaku kaum muda dengan tetap memperhatikan isi pesan yang baik. Sehingga kaum muda dilirik berdasarkan kualitas bukan sekedar kuantitas.

 

 

Opini

Penulis : Arbi Riyansyah Pegiat Agency Digital Creative

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *