JBNN.net, Banda Aceh – Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh menggelar Sekolah Kader Dakwah sebagai upaya menyiapkan generasi muda yang mampu melanjutkan estafet syiar Islam sekaligus berperan aktif dalam pembangunan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Mushalla Baburrahman, Lorong E, Gampong Beurawe, Ahad (8/11/2026), tersebut diikuti sejumlah kader remaja masjid. Program ini diarahkan untuk membina calon dai dan aktivis masjid agar memiliki kapasitas serta kepedulian dalam membangun kehidupan masyarakat yang Islami.
Kegiatan itu dihadiri Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, Kepala Dinas Syariat Islam Banda Aceh, Alimsyah, Kabid Dakwah Marzuki, Kabid Pengembangan Syariah Wirzaini Usman, Kabid Bina Ibadah dan Muamalah Jamal, beserta jajaran.
Sekolah Kader Dakwah juga menghadirkan praktisi herbal syariah sekaligus pakar Thibbun Nabawi, Ustadz Febri Sugianto, yang menyampaikan materi tentang fenomena kehidupan pemuda dan persoalan kesehatan dalam perspektif Islam.
Kepala Dinas Syariat Islam Banda Aceh, Alimsyah, mengatakan kaderisasi dai dan aktivis masjid menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlangsungan syiar Islam lintas generasi.
Menurutnya, pembinaan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan agar lahir generasi penerus yang mampu menjaga dan mengembangkan pelaksanaan syariat Islam sebagaimana dicita-citakan para pendahulu, khususnya para ulama.
“Ke depan program pengembangan remaja kader dakwah bisa dimaksimalkan,” kata Alimsyah.
Ia menilai tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Pengaruh sekularisme dan liberalisme, pergaulan bebas, hingga memudarnya adat dan etika menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius. Terlebih, perkembangan teknologi dan media turut membentuk pola pikir serta perilaku anak muda.
Alimsyah juga menyoroti perubahan pola hidup sebagian remaja yang dinilai semakin jauh dari kebiasaan sehat. Waktu malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dihabiskan dengan aktivitas hingga menjelang pagi yang tidak produktif dan berpotensi mendatangkan kemudaratan bagi kesehatan.
Sebaliknya, waktu pagi hingga siang yang semestinya dimanfaatkan untuk beraktivitas malah digunakan untuk tidur.
“Itu sudah menyalahkan fitrahnya selaku manusia,” ujarnya.
Karena itu, Alimsyah menegaskan pemuda harus mendapatkan pembinaan yang tepat agar mampu mengambil peran sebagai benteng moral di tengah berbagai perubahan sosial.
“Pemuda memiliki peran penting dalam membangun masyarakat Islami yang menuntut lahirnya kader dakwah guna menjadi benteng atas fenomena tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, menyebut pembangunan peradaban Islam harus dimulai dari pembentukan kepribadian muslim yang baik. Proses tersebut dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat gampong, kecamatan, hingga terbentuknya sebuah negara yang masyarakatnya menjalankan nilai-nilai Islam.
Farid juga menyoroti semakin minimnya keterlibatan generasi muda dalam memakmurkan masjid dan mushalla. Padahal, menurutnya, masjid sejak dahulu menjadi ruang penting dalam membentuk karakter sekaligus melahirkan kader-kader dakwah.
Ia menggambarkan proses kaderisasi yang selama ini tumbuh dari lingkungan masjid, mulai dari belajar mengaji di Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA), berlanjut ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan Ta’limul Qur’an lil Aulad (TQA). Ketika memasuki jenjang SMA, mereka mulai aktif sebagai remaja masjid, kemudian melanjutkan kiprah sebagai aktivis dakwah kampus saat kuliah.
Namun, pola pembinaan tersebut dinilai mulai melemah sehingga regenerasi aktivis dakwah ikut terancam.
“Hari ini kita lihat aktivitas di masjid sudah redup dan terjadi lost generation,” kata Farid.
Aktivis dakwah Banda Aceh itu meyakini kebangkitan Islam di ibu kota Provinsi Aceh harus dimulai dari masjid dengan melibatkan peran aktif generasi muda.
Menurutnya, potensi anak-anak muda yang tumbuh di tengah masyarakat perlu dihimpun, dibina, dan dididik secara terarah agar memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat Islami.
Ketua DPD PKS Banda Aceh tersebut juga mendorong Pemerintah Kota Banda Aceh untuk memberikan dukungan anggaran yang lebih maksimal terhadap program-program kepemudaan, khususnya kegiatan pembinaan dan syiar dakwah.
Dukungan tersebut dinilai penting agar berbagai potensi pemuda tidak berhenti sebatas semangat, tetapi dapat berkembang menjadi gerakan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, praktisi kesehatan herbal, Ustadz Febri Sugianto, mengingatkan adanya sejumlah kebiasaan anak muda yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Ia mencontohkan kebiasaan nongkrong hingga larut malam, bermain gawai dalam waktu lama, serta mengonsumsi makanan dan minuman tanpa memperhatikan dampaknya terhadap tubuh.
“Saya lihat anak-anak muda di Banda Aceh, mereka duduk lama-lama hingga larut malam sambil bermain gagdet dan jogat joget, belum lagi kita periksa apa yang mereka makan dan minum. Padahal di usia yang demikian itu, mereka harus menjaga waktu tidurnya agar tidak terserang liver dan ginjalnya,” kata Ustadz Febri.
Sekolah Kader Dakwah ini diharapkan tidak hanya melahirkan dai yang mampu menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga aktivis masjid yang memiliki kepedulian sosial, karakter kuat, serta kesiapan mengambil bagian dalam pembangunan Kota Banda Aceh(***).





