JBNN.net, Banda Aceh | Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat pendidikan seni dan budaya di lingkungan sekolah melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).
Program yang digagas dalam kepemimpinan Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal dan Wakil Wali Kota Afdhal Khalilullah itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan kekayaan seni budaya daerah.
Hal tersebut ditunjukkan melalui penyelenggaraan Pentas GSMS Kota Banda Aceh Tahun 2026 yang resmi dibuka Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal di Taman Budaya Aceh, Minggu (8/11/2026).
Pentas ini bukan sekadar agenda pertunjukan seni. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi panggung apresiasi bagi siswa SD dan SMP yang telah mengikuti proses pembelajaran bersama seniman dan pelatih profesional selama program berlangsung.
Beragam penampilan seni tradisional dan ekspresi kreatif disuguhkan para peserta, mulai dari Tari Ranup Lampuan, Ratoh Jaroe, Likok Pulo, Rapa’i Geleng, Rateb Meuseukat, baca puisi, pantomim hingga hikayat.
Di balik setiap penampilan, tersimpan proses latihan, kedisiplinan, keberanian, serta kreativitas yang tumbuh melalui pendampingan para seniman dan guru.

Illiza mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan program tersebut, mulai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kepala sekolah, seniman pelatih, guru pendamping hingga para peserta didik.
“Apa yang kita saksikan hari ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ada latihan, ada kerja keras, ada keberanian, dan tentu ada bimbingan dari para seniman serta guru-guru yang mendampingi,” ujar Illiza.
Menurutnya, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian akademik di dalam ruang kelas. Sekolah juga harus menjadi tempat bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, berkreasi, dan mengenal identitas budayanya.
“Sekolah juga harus menjadi ruang bagi anak-anak untuk berekspresi, berkreasi, berinovasi, dan mengenal kekayaan budaya daerahnya,” katanya.
Jangkauan Program Terus Diperluas
Sejak dilaksanakan pada 2025, GSMS menunjukkan perkembangan dari sisi jangkauan peserta maupun sekolah yang terlibat.
Pada tahun pertama, program ini menjangkau 40 sekolah, terdiri atas 30 SD dan 10 SMP, dengan total 448 siswa.
Memasuki 2026, Pemerintah Kota Banda Aceh memperluas cakupan program menjadi 51 sekolah dengan melibatkan 626 siswa. Proses pembelajaran tersebut didampingi langsung oleh 26 seniman dan pelatih.
Setiap sekolah mendapatkan 20 kali pertemuan pembelajaran seni. Dengan pola tersebut, siswa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk tampil di atas panggung, tetapi juga menjalani proses pengenalan, pendalaman, dan latihan seni secara bertahap.
Illiza menegaskan, kekuatan GSMS terletak pada proses pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mengenal seni budaya dari para pelakunya.
“Tujuannya jelas. Kita ingin anak-anak semakin mengenal dan mencintai seni budaya, sekaligus memiliki ruang untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya,” ungkapnya.
Ia berharap para peserta tidak sekadar mampu menghafal gerakan atau materi pertunjukan. Mereka juga perlu memahami nilai, filosofi, dan cerita yang terkandung dalam setiap kesenian yang dipelajari.
Keberhasilan GSMS tidak cukup diukur dari kemeriahan pentas atau banyaknya siswa yang tampil. Hal terpenting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan seni yang diperoleh dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ia mendorong sekolah-sekolah penerima program agar melanjutkan pembelajaran seni melalui regenerasi peserta didik.
Anak-anak yang telah mendapatkan pembelajaran diharapkan dapat berbagi pengetahuan dengan teman-temannya. Dengan demikian, kesenian yang telah dipelajari tidak berhenti pada peserta program, tetapi berkembang menjadi bagian dari kehidupan sekolah.
“Anak-anak yang sudah belajar dapat mengajarkan kembali kepada teman-temannya. Dengan begitu, semakin banyak siswa yang mengenal dan mampu melanjutkan kesenian yang telah dipelajari,” kata Illiza.
Menutup sambutannya, Illiza memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar menjadikan pentas tersebut sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik tanpa dibayangi rasa takut melakukan kesalahan.
“Hari ini adalah panggung kalian. Tampilkan yang terbaik. Jangan takut salah. Jangan takut tampil. Nikmati prosesnya dan berikan apresiasi kepada teman-teman yang tampil,” pesannya.
Ia menegaskan, tidak semua anak harus bercita-cita menjadi seniman. Namun, setiap anak perlu memiliki keberanian untuk berekspresi, kreativitas untuk menghasilkan karya, serta kebanggaan terhadap budaya daerahnya.
“Tidak semua anak harus menjadi seniman. Tetapi setiap anak perlu memiliki keberanian untuk berekspresi, kreativitas untuk berkarya, dan rasa bangga terhadap budaya daerahnya,” tutup Illiza(***).





