JBNN.net, NUSA TENGGARA TIMUR | Lembaga Manajemen Infaq (LMI) mulai mendirikan Hunian Sementara (Huntara) perdana bagi warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (23/9/2026).
Pembangunan tahap awal ini dipusatkan di Dusun Logo, Desa Nangabaling, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Koordinator Respon Aksi LMI, Achmad Ramadhani Prakoso, menyebutkan bahwa hunian ini diprioritaskan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat guncangan gempa bermagnitudo 7,7 beberapa waktu lalu.
“Ini merupakan Huntara perdana. Pada tahap pertama, kami merencanakan pembangunan lima unit Huntara bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat,” ujar Ramadhani kepada wartawan JBNN.net, Rabu malam (23/9/2026).
Meski pusat gempa utama berada di perairan Kabupaten Nagekeo, dampak kerusakan terparah justru melanda wilayah Manggarai Raya, yang meliputi Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat. Hal tersebut terjadi lantaran rentetan gempa susulan terus mengarah ke daratan serta perairan kawasan tersebut.
Dalam proses pembangunan Huntara, tim relawan harus berhadapan dengan hambatan logistik di lapangan. Karena itu, kata dia, pengadaan bahan bangunan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.
“Kendala utama pembangunan saat ini adalah harga bahan baku material yang mahal. Jarak lokasi pembelian juga cukup jauh, bahkan tim harus bergeser ke kabupaten sebelah demi membeli material Huntara,” urai dia.
Ditengah keterbatasan tersebut, LMI terus bergerak menyalurkan bantuan mendesak lainnya sembari menyelesaikan pembangunan hunian. Paket hygiene kit, family kit, school kit, baby kit, hingga survival kit terus dibagikan secara berkala.
Tak hanya itu, sambung Dani “fasilitas pendukung seperti tandon air, masjid dan mushola darurat, shelter pengungsi, dapur umum, dapur air, hingga layanan psikososial Camp Ceria juga disiapkan guna menjaga kelangsungan hidup para pengungsi di lokasi bencana,” katanya mengakhiri.





