JBNN.net, Banda Aceh | Rencana Pemerintah Kota Banda Aceh menata kawasan Jalan Tgk Chik Pante Kulu menjadi taman dan pusat kuliner malam hari mulai menuai penolakan dari sejumlah pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan di kawasan tersebut.
Para pedagang menilai, Jalan Tgk Chik Pante Kulu bukan sekadar ruas jalan, tetapi telah menjadi ruang usaha dan sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, wacana penutupan akses kendaraan roda dua dan roda empat di sepanjang kawasan tersebut menimbulkan keresahan.
Penolakan pedagang ditandai dengan pemasangan spanduk berukuran besar di kawasan tersebut. Spanduk berlatar merah itu memuat pernyataan tegas:
“KAMI PERSATUAN PEDAGANG JLN TGK CHIK PANTE KULU MENOLAK PEMBANGUNAN TAMAN DI SEPANJANG JLN TGK CHIK PANTE KULU DAN KAMI MENOLAK DILAKUKAN PENUTUPAN JALAN UNTUK AKSES RODA 2 DAN RODA 4.”
Pemasangan spanduk tersebut sebagai bentuk keresahan pedagang yang berharap rencana penataan kawasan terlebih dahulu dibahas bersama para pelaku usaha yang telah lama beraktivitas di lokasi tersebut.
Salah seorang pedagang, Suryadi, mengatakan akses kendaraan menjadi salah satu faktor penting yang mendukung aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.
Menurutnya, pelanggan yang menggunakan sepeda motor maupun kendaraan roda empat selama ini dapat dengan mudah mendatangi lokasi, berhenti, dan membeli dagangan.
“Pedagang di Jalan Tgk Chik Pante Kulu menolak keras rencana dari Pemkot untuk membuat kuliner di sepanjang Jalan Tgk Chik Pante Kulu,” katanya kepada wartawan, Kamis (20/8/2026).
Ia khawatir, apabila akses kendaraan ditutup, sebagian pelanggan akan memilih lokasi lain yang lebih mudah dijangkau.
“Yang kami khawatirkan aktivitas perdagangan terganggu. Kalau jalan ditutup, pembeli mungkin enggan melewati kawasan ini karena aksesnya menjadi terbatas,” ujarnya.
Kekhawatiran pedagang tidak hanya menyangkut akses kendaraan, tetapi juga potensi penurunan pendapatan harian.
Bagi mereka, jumlah pelanggan yang datang setiap hari sangat menentukan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penurunan jumlah pembeli, meski tidak terlalu besar, dinilai dapat langsung berdampak terhadap omzet.
Apalagi, sebagian pedagang telah mengeluarkan modal untuk menyewa tempat, membeli bahan dagangan, memenuhi biaya operasional, hingga menopang kebutuhan keluarga dari hasil berjualan.
Selain persoalan akses, pedagang juga mengkhawatirkan kondisi kebersihan kawasan apabila pada malam hari dijadikan pusat kuliner.
Pedagang berharap pemerintah tidak hanya melihat penataan dari perspektif estetika kota, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan usaha masyarakat.
Kawasan yang tertata, bersih, aman, dan memiliki sentra kuliner dapat menjadi ruang publik sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Kita berharap mobilitas warga dan pelanggan tetap dipertahankan sehingga masyarakat tidak kesulitan mencapai lokasi usaha,”tegasnya.
Menurutnya, penataan kawasan tidak harus selalu dilakukan dengan menutup jalan secara penuh. Pemerintah dinilai masih dapat mencari skema lain yang mampu mengakomodasi kepentingan penataan kota sekaligus menjaga aktivitas ekonomi masyarakat.
Dialog antara pemerintah, pedagang, pemilik usaha, masyarakat sekitar, dan pihak terkait dinilai penting dilakukan sebelum kebijakan tersebut benar-benar diterapkan.
Sebelumnya, rencana penataan Jalan Tgk Chik Pante Kulu disampaikan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal melalui unggahan di akun TikTok pribadinya.
Dalam video tersebut, Illiza menyebut pemerintah akan melakukan pengerjaan jalan dan penataan kawasan secara bertahap. Kawasan itu direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pusat kuliner pada malam hari.
“Malam bisa kita pakai untuk kuliner juga di kawasan ini. Semua sedang kita persiapkan konsepnya,” ujar Illiza.
Ia juga menyebut penataan pedestrian dan pembangunan akses penghubung menjadi bagian dari konsep kawasan tersebut.
Akses tersebut diharapkan dapat menghubungkan kawasan Masjid Raya Baiturrahman dengan Pasar Aceh dan Jalan Tgk Chik Pante Kulu.
“Kalau bisa ada connecting dari Masjid Raya langsung ke sini. Jadi wisatawan misalnya mereka salat, mereka bisa langsung belanja di Pasar Aceh,” katanya.





