JBNN.net | Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Lembaga Manajemen Infaq (LMI) mulai membangun hunian sementara bagi korban banjir di Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.
Pembangunan ini ditujukan untuk warga yang rumahnya rusak berat atau hilang akibat banjir, dengan prioritas awal diberikan kepada relawan penanggulangan bencana yang turut terdampak.
Direktur Program Laznas LMI, Yanuar Dwi Prianto, mengatakan langkah tersebut diambil karena banyak warga yang dalam waktu singkat kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan setelah bencana melanda.
“Dalam kondisi bencana, banyak masyarakat yang sebelumnya punya rumah, punya pekerjaan, dalam waktu singkat langsung menjadi fakir miskin dan membutuhkan bantuan,” kata Yanuar di lokasi, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Yanuar, pembangunan hunian sementara atau huntara menjadi kebutuhan mendesak karena proses pemulihan dan pembangunan rumah permanen belum memiliki kepastian waktu. Ia menilai tinggal terlalu lama di tenda tidak memungkinkan, terutama bagi keluarga yang membutuhkan ruang lebih layak untuk beristirahat dan beraktivitas.
“Kami ingin menghadirkan rumah sementara agar warga bisa tinggal lebih nyaman, bisa beristirahat dengan baik, menjaga kesehatan, dan kembali beraktivitas secara normal,” ujarnya.
LMI menetapkan kriteria penerima huntara dengan memprioritaskan relawan Nusantara Penanggulangan Bencana (RNPB) yang tergabung dalam LMI dan mengalami kerusakan rumah berat atau kehilangan tempat tinggal.
Para relawan ini, kata Yanuar, selama sebulan terakhir lebih banyak membantu orang lain ketimbang memulihkan kondisi mereka sendiri, meski turut menjadi korban banjir.
“Prioritas pertama adalah relawan yang rumahnya rusak berat atau hilang. Setelah itu, kami juga akan mempertimbangkan masyarakat umum dengan kondisi kerusakan serupa,” kata dia.
Salah satu penerima hunian sementara, Rudi, relawan LMI, mengatakan rumahnya rata dengan tanah setelah diterjang banjir bandang. Sejak kejadian itu, ia dan keluarganya harus berpindah-pindah dan bergantung pada tenda darurat.
“Rumah saya habis, tidak tersisa. Air datang malam hari, cepat sekali. Kami hanya sempat menyelamatkan diri,” kata Rudi. “Dengan adanya huntara ini, setidaknya kami punya tempat tinggal yang lebih aman dan layak sambil menunggu kondisi benar-benar pulih.” Ungkapnya lirih.
Pembangunan hunian sementara ini menjadi bagian dari respons kemanusiaan LMI di Aceh Tamiang, seiring upaya pemulihan pascabanjir yang masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak.





