JBNN.Net | Sebuah bab penting dalam sejarah dunia Islam dan perlawanan terhadap kolonialisme ditandai oleh hadirnya ekspedisi militer Kesultanan Utsmaniyah ke Kesultanan Aceh Darussalam.
Dimulai pada tahun 1565, ekspedisi ini merupakan bentuk solidaritas antara dua kerajaan Islam dalam menghadapi ancaman Portugis yang bercokol di Malaka.
Hubungan Aceh dan Turki Utsmani sebenarnya telah terjalin sejak awal 1530-an. Namun, hubungan ini kian menguat saat Sultan Alauddin al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul pada tahun 1564, bahkan mungkin sejak 1562, meminta bantuan kepada Khalifah Utsmaniyah, Sultan Suleiman al-Qanuni.
Sang Khalifah, dikenal sebagai pelindung umat Islam dunia, merespons permintaan ini dengan mengirim bala bantuan.
Menurut catatan penjelajah Portugis Fernão Mendes Pinto, pasukan awal yang datang ke Aceh pada tahun 1539 terdiri atas orang-orang dari berbagai penjuru dunia Islam: Utsmaniyah, Mesir, Swahili, Somalia, Sindhi, Gujarat, hingga pelaut Malabar dari Janjira. Mereka bergabung dalam sebuah misi besar—mengusir penjajah dan mengokohkan kekuatan Islam di Asia Tenggara.
Pada masa pemerintahan Sultan Selim II, armada pertama yang dipimpin oleh Laksamana Kurdoglu Hizir Reis dikirim ke Aceh.
Meski sebagian kapal dialihkan untuk menangani pemberontakan di Yaman, dua kapal berhasil tiba di Aceh antara tahun 1566–1567. Bantuan tersebut mencakup pasukan, pembuat senjata, dan insinyur, serta persenjataan lengkap, termasuk artileri berat.
Kerjasama ini membuahkan hasil nyata. Pada tahun 1568, Aceh melancarkan serangan besar ke Malaka. Meskipun pasukan Turki tidak terlibat secara langsung, teknologi dan pelatihan dari mereka memperkuat kekuatan militer Aceh secara signifikan.
Kesultanan Aceh pun belajar membuat meriam dan senjata api lainnya. Di awal abad ke-17, Aceh dikenal sebagai salah satu kekuatan militer terbesar di kawasan, dengan persenjataan canggih seperti meriam perunggu dan senapan putar.
Lebih dari sekadar aliansi militer, hubungan Aceh–Utsmaniyah mempererat ikatan budaya, agama, dan perdagangan. Kapal-kapal Aceh diizinkan mengibarkan bendera Utsmaniyah, simbol persatuan Islam lintas benua.
Sayangnya, ketika Belanda menyerang Aceh pada tahun 1873, permintaan perlindungan kepada Turki Utsmani—berdasarkan kesepakatan lama—ditolak oleh kekuatan kolonial Eropa. Mereka khawatir kebangkitan aliansi Islam seperti masa lampau akan mengguncang dominasi Barat di Asia.
Jejak perjalanan Utsmaniyah di Aceh adalah sebagai bentuk persatuan Islam pernah menggetarkan dunia dan menjadi ancaman nyata bagi penjajahan. Sebuah catatan sejarah yang layak dikenang dan dijadikan inspirasi dalam membangun solidaritas lintas bangsa dan iman.
Sumber : Wikipedia





